Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengingatkan pemerintah agar tak cepat berpuas diri meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan atau year on year.
Menurutnya, capaian itu banyak ditopang faktor musiman, sementara sejumlah sektor strategis justru mulai melambat.
BPS baru saja merilis angka-angka perekonomian nasional. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakmenentuan perekonomian global, kita bersyukur perekonomian nasional masih tumbuh 5,29 persen (yoy),”
kata Said di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
Said mengatakan momentum libur sekolah, musim penerimaan peserta didik baru, hingga cuaca kemarau jadi faktor yang ikut mendongkrak sejumlah sektor ekonomi.
Dia menjelaskan masa libur sekolah mendorong sektor akomodasi, makanan dan minuman tumbuh 10,6 persen. Sementara, aktivitas penerimaan sekolah ikut mengerek sektor informasi dan komunikasi hingga tumbuh 6,97 persen.
Selain itu, cuaca panas selama musim kemarau dan naiknya harga gas akibat konflik geopolitik membuat sektor listrik serta gas melonjak 10,81 persen.
Namun, di balik pertumbuhan itu, Said menyoroti perlambatan industri pengolahan yang dinilai harus jadi alarm bagi pemerintah.
Kita harus mewaspadai melambatnya pertumbuhan industri pengolahan. Pada triwulan I 2026 industri pengolahan tumbuh 5,04 persen (yoy). Namun, di triwulan II 2026 tumbuh lebih rendah, yakni 4,52 persen,”
ujarnya.
Menurut Said, perlambatan itu tak bisa dianggap sepele karena industri pengolahan merupakan tulang punggung perekonomian nasional.
Industri pengolahan menyumbangkan 18,5 persen dari PDB, sekaligus kontributor 13,5 persen tenaga kerja nasional, sekaligus cerminan dari sebagian besar tenaga kerja formal,”
katanya.
Tak hanya sektor industri, Said juga menilai sektor pertanian perlu dapat perhatian lebih. Meski panen raya berlangsung di berbagai daerah, pertumbuhan sektor ini justru melambat dari 4,97 persen pada triwulan I menjadi 3,8 persen pada triwulan II 2026.
Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah sebab sektor pertanian cerminan dari sektor primer, sekaligus berkontribusi 13,57 persen terhadap PDB. Sektor pertanian juga menyumbang 28,75 persen tenaga kerja nasional,”
tuturnya.
Di sisi lain, Said menyebut konsumsi rumah tangga masih jadi penopang utama ekonomi nasional meski mengalami sedikit perlambatan dari 5,52 persen menjadi 5,05 persen.
Sementara, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen dan ekspor membaik menjadi 4,13 persen setelah pada triwulan I hanya tumbuh 0,9 persen.
Selain menyoroti pertumbuhan ekonomi, Said juga mengingatkan persoalan ketenagakerjaan yang dinilai belum sehat karena pekerja informal masih mendominasi.
Ia mencatat pekerja formal meningkat dari 59,93 juta orang pada Februari menjadi 60,31 juta orang pada Mei 2026. Sementara, pekerja informal juga naik dari 87,74 juta menjadi 87,88 juta orang pada periode yang sama.
Menurut Said, kenaikan tersebut belum mengubah struktur pasar kerja secara signifikan. Bahkan, dibandingkan akhir 2025, proporsi pekerja informal justru bertambah.
Ia bilang tantangan ke depan agar bisa meningkatkan proporsi tenaga kerja formal jauh lebih besar dibabdingkan dengan tenaga kerja informal.
Kuncinya memperbaiki iklim usaha di sektor industri dan perdagangan besar, serta terus mendorong inklusi pendidikan tinggi,”
tuturnya.
Said menduga tingginya pekerja informal turut berkontribusi terhadap meningkatnya ketimpangan ekonomi.
Berdasarkan data BPS, rasio gini pada Maret 2026 naik menjadi 0,368 dari 0,363 pada September 2025. Kenaikan paling terasa terjadi di wilayah perkotaan, dari 0,383 menjadi 0,387.
Masih tingginya gap tenaga kerja formal dan informal ini, saya menduga berkontribusi pada kenaikan angka kesenjangan sosial (gini ratio),”
katanya.
Karena itu, ia meminta pemerintah menyiapkan program afirmasi yang menyasar pekerja informal, mulai dari perluasan akses BPJS, beasiswa, hingga penciptaan lapangan kerja agar kesenjangan sosial tidak semakin melebar.
























