Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 6 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Ekonomi RI 5,29 Persen Bikin Pemerintah Tak Boleh Cepat Puas, Industri dan Pertanian Mulai Melambat
Ekonomi Bisnis

Ekonomi RI 5,29 Persen Bikin Pemerintah Tak Boleh Cepat Puas, Industri dan Pertanian Mulai Melambat

Rika PangestiHardani Triyoga
Last updated: Agustus 6, 2026 5:15 pm
By
Rika Pangesti
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan...
Follow:
Hardani Triyoga
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Follow:
2 jam lalu
Share
Anggota DPR sekaligus Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah.
Anggota DPR sekaligus Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah. (ANTARA/HO-DPR RI)
SHARE

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengingatkan pemerintah agar tak cepat berpuas diri meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan atau year on year.

Menurutnya, capaian itu banyak ditopang faktor musiman, sementara sejumlah sektor strategis justru mulai melambat.

BPS baru saja merilis angka-angka perekonomian nasional. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakmenentuan perekonomian global, kita bersyukur perekonomian nasional masih tumbuh 5,29 persen (yoy),”

kata Said di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Said mengatakan momentum libur sekolah, musim penerimaan peserta didik baru, hingga cuaca kemarau jadi faktor yang ikut mendongkrak sejumlah sektor ekonomi.

Baca juga:
Kebijakan Purbaya Dinilai Ancam Ekonomi Nasional dan Reputasi Indonesia di… Ekonom Prof. Ferry Latuhihin melontarkan kritik terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.…
APBN Jangan Hanya Bangun Proyek, Pendapatan Rakyat Harus Jadi Prioritas Pengamat ekonomi kreatif Febryan Wishnu menilai, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)…
Panas Makin Menyengat, Epidemiolog Ungkap Ancaman Heat Stress di Indonesia Cuaca panas ekstrem di Indonesia bukan lagi sekadar persoalan rasa gerah atau…
  • Kebijakan Purbaya Dinilai Ancam Ekonomi Nasional dan Reputasi Indonesia di Mata Dunia
  • APBN Jangan Hanya Bangun Proyek, Pendapatan Rakyat Harus Jadi Prioritas
  • Panas Makin Menyengat, Epidemiolog Ungkap Ancaman Heat Stress di Indonesia

Dia menjelaskan masa libur sekolah mendorong sektor akomodasi, makanan dan minuman tumbuh 10,6 persen. Sementara, aktivitas penerimaan sekolah ikut mengerek sektor informasi dan komunikasi hingga tumbuh 6,97 persen.

Selain itu, cuaca panas selama musim kemarau dan naiknya harga gas akibat konflik geopolitik membuat sektor listrik serta gas melonjak 10,81 persen.

Namun, di balik pertumbuhan itu, Said menyoroti perlambatan industri pengolahan yang dinilai harus jadi alarm bagi pemerintah.

Kita harus mewaspadai melambatnya pertumbuhan industri pengolahan. Pada triwulan I 2026 industri pengolahan tumbuh 5,04 persen (yoy). Namun, di triwulan II 2026 tumbuh lebih rendah, yakni 4,52 persen,”

ujarnya.

Menurut Said, perlambatan itu tak bisa dianggap sepele karena industri pengolahan merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Industri pengolahan menyumbangkan 18,5 persen dari PDB, sekaligus kontributor 13,5 persen tenaga kerja nasional, sekaligus cerminan dari sebagian besar tenaga kerja formal,”

katanya.

Tak hanya sektor industri, Said juga menilai sektor pertanian perlu dapat perhatian lebih. Meski panen raya berlangsung di berbagai daerah, pertumbuhan sektor ini justru melambat dari 4,97 persen pada triwulan I menjadi 3,8 persen pada triwulan II 2026.

Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah sebab sektor pertanian cerminan dari sektor primer, sekaligus berkontribusi 13,57 persen terhadap PDB. Sektor pertanian juga menyumbang 28,75 persen tenaga kerja nasional,”

tuturnya.

Di sisi lain, Said menyebut konsumsi rumah tangga masih jadi penopang utama ekonomi nasional meski mengalami sedikit perlambatan dari 5,52 persen menjadi 5,05 persen.

Sementara, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen dan ekspor membaik menjadi 4,13 persen setelah pada triwulan I hanya tumbuh 0,9 persen.

Pertumbuhan Ekonomi 2027 Ditargetkan 6,5 Persen, Purbaya Beberkan Jurusnya

Selain menyoroti pertumbuhan ekonomi, Said juga mengingatkan persoalan ketenagakerjaan yang dinilai belum sehat karena pekerja informal masih mendominasi.

Ia mencatat pekerja formal meningkat dari 59,93 juta orang pada Februari menjadi 60,31 juta orang pada Mei 2026. Sementara, pekerja informal juga naik dari 87,74 juta menjadi 87,88 juta orang pada periode yang sama.

Menurut Said, kenaikan tersebut belum mengubah struktur pasar kerja secara signifikan. Bahkan, dibandingkan akhir 2025, proporsi pekerja informal justru bertambah.

Ia bilang tantangan ke depan agar bisa meningkatkan proporsi tenaga kerja formal jauh lebih besar dibabdingkan dengan tenaga kerja informal.

Kuncinya memperbaiki iklim usaha di sektor industri dan perdagangan besar, serta terus mendorong inklusi pendidikan tinggi,”

tuturnya.
Baca juga:
Jangan Berulah, Kapolri Patrolikan Tim Siber Kejar Penyebaran Hoaks Isu… Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah memberikan instruksi ke jajaran untuk menindak…
Ekonomi Kuartal II-2026 Tumbuh 5,29 Persen, Airlangga dan Purbaya Kompak… Menteri-menteri ekonomi Kabinet Merah Putih merespons pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang…
Pasien Meninggal Usai Berjam-jam Tunggu Kamar RS, DPR Bongkar Masalah… Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyoroti kasus pasien yang…
  • Jangan Berulah, Kapolri Patrolikan Tim Siber Kejar Penyebaran Hoaks Isu Demo Agustus
  • Ekonomi Kuartal II-2026 Tumbuh 5,29 Persen, Airlangga dan Purbaya Kompak Bilang Gini
  • Pasien Meninggal Usai Berjam-jam Tunggu Kamar RS, DPR Bongkar Masalah Besar Layanan…

Said menduga tingginya pekerja informal turut berkontribusi terhadap meningkatnya ketimpangan ekonomi.

Berdasarkan data BPS, rasio gini pada Maret 2026 naik menjadi 0,368 dari 0,363 pada September 2025. Kenaikan paling terasa terjadi di wilayah perkotaan, dari 0,383 menjadi 0,387.

Masih tingginya gap tenaga kerja formal dan informal ini, saya menduga berkontribusi pada kenaikan angka kesenjangan sosial (gini ratio),”

katanya.

Karena itu, ia meminta pemerintah menyiapkan program afirmasi yang menyasar pekerja informal, mulai dari perluasan akses BPJS, beasiswa, hingga penciptaan lapangan kerja agar kesenjangan sosial tidak semakin melebar.

Tag:Berita PentingEkonomiindustriPertanianPertumbuhan Ekonomi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Follow:
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan pemahaman akademis dengan pengalaman lapangan — termasuk meliput untuk tvOnenews.com sejak 2022.
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Follow:
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Dari Court ke Street, Sepatu Basket Berubah Jadi Statement Fashion
By Syifa Fauziah
Sepatu Basket
1
Babak Baru Polemik Tudingan Wartawan ‘Gerombolan Sirkus’, Deddy Sitorus Siapkan Langkah Hukum
By Rika Pangesti
Anggota Komisi II DPR RI Deddy Yevri Sitorus.
2
Heboh Warga Israel Diduga Tinggal dan Punya Bisnis di Bali, Kemlu RI: Kami Cek Dulu
By Natania Longdong
Ilustrasi warga asing liburan di Bali.
3
Pajak Marketplace Ditunda ke November 2026, yang Telanjur Dipungut Dikembalikan
By Anisa Aulia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
4
Geger! Ratusan Senjata Api dan Airsoft Gun Ditemukan di Yayasan Sekolah Swasta Jaksel
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi Senjata Api. (Sumber: Unsplash/ Bo Harvey)
5

BERITA LAINNYA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ekonomi Bisnis

Dapat Saingan Jakarta Jual Surat Utang Rp3,5 T, Purbaya: Kami Lebih Kredibel dari Pemda

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tidak khawatir surat utang yang diterbitkan…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
6 menit lalu
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nz)
Ekonomi Bisnis

Rupiah Ditutup Menguat Rp17.923 per Dolar AS, Tapi IHSG Merosot 0,12 Persen

Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup tak sejalan…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
1 jam lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan situasi keuangan negara pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Ekonomi Bisnis

Purbaya Bantah Kabar Pemerintah Bakal Hapus Aturan Defisit APBN 3 Persen dari PDB

Pemerintah dikabarkan akan menghapus batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
2 jam lalu
Warga melihat barang dagangan melalui perangkat elektronik pada aplikasi platform niaga elektronik (e-commerce) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6/2026). (Sumber: Antara Foto/Harviyan Perdana Putra/nym)
Ekonomi Bisnis

Asosiasi Buka Suara Usai Pemerintah Batal Terapkan Pajak Marketplace Agustus 2026

Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) buka suara terkait keputusan pemerintah menunda pemberlakuan pemungutan…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
2 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up