Baru-baru ini jagat media sosial dihebohkan dengan pengakuan seorang influencer bernama Fahira Almira yang baru saja menjalani pemeriksaan usus buntu di Penang, Malaysia.
Melalui akun TikTok pribadinya, ia menceritakan pengalamannya mendapatkan diagnosis berbeda dari tiga rumah sakit di Indonesia yang sebelumnya juga memeriksa kondisi usus buntunya.
Menanggapi hal tersebut, dokter sekaligus pakar Global Health Security, dr. Dicky Budiman menjelaskan alasan adanya perbedaan diagnosis antar-rumah sakit.
Menurut dr. Dicky, perbedaan diagnosis antar-rumah sakit secara objektif USG itu bersifat sangat operator dependent.
Jadi studi menunjukkan appendix gagal tervisualisasi pada 30-50 persen kasus, artinya variasinya sangat bergantung juga pada keahlian dari operator termasuk teknologi, skill, dan pengalaman,”
ujar dr. Dicky dalam keterangannya, dikutip Rabu, 19 Agustus 2026.
Selain itu, kemungkinan juga ada faktor dari si pasien, misalnya pasiennya obesitas, tidak ada gas usus, posisi appendix juga retrosekal. Ini terjadi pada 60 persen kasus.
Mempengaruhi Hasil USG
Menurut dr. Dicky, hal tersebut sangat mempengaruhi hasil dari USG.
Kemudian juga faktor waktu, jadi kondisi klinis bisa berubah antar-pemeriksaan. Peradangan bisa memburuk tetapi juga bisa mereda spontan atau self-limiting appendicitis, ini dikenal sekali dalam literatur,”
ungkapnya.
Jadi ketika ada jeda waktu antara pemeriksaan di Indonesia dan di Penang cukup lama, hasil yang berbeda tidak otomatis berarti salah satu pihak keliru, bisa jadi kondisinya si pasien memang berubah.
Selain itu ada diagnosis banding, lanjut dr. Dicky, yang relevan di sini adalah fecal impaction atau penumpukan tinja.
Kondisi ini bisa menimbulkan nyeri perut kanan bawah yang mirip appendicitis dan juga secara teori bisa menyebabkan sedikit distensi, ya pembesaran appendix tanpa inflamasi.
Jadi klaim cuma numpuk kotoran secara teori memang mungkin, tapi juga tidak otomatis membuktikan tiga rumah sakit di Indonesia salah. Kedua kemungkinan, artinya radang ringan yang membaik sendiri atau overdiagnosis awal, sama-sama valid tanpa rekam medis yang lengkap,”
paparnya.
Dokter Dicky mengatakan dalam kasus yang ramai di media sosial ini, publik hanya melihat cerita sepihak dan cuplikan hasil dari satu pihak yaitu pasien, tanpa rekam medis lengkap dari tiga rumah sakit di Indonesia maupun rumah sakit Penang secara utuh dan terverifikasi.
Selain itu, dokter di Indonesia tidak bisa membantah karena terikat kerahasiaan medis, sehingga publik hanya mendengar satu sisi cerita pasien saja.
Dokter terikat kewajiban menjaga kerahasiaan pasien sehingga tidak bisa membuka rekam medis termasuk kondisi klinis pasien ke publik.
Artinya, risiko yang terjadi saat ini adalah publik berpotensi hanya mendapatkan satu cerita dari pihak pasien saja. Selain itu ada kemungkinan motif komersial. Jadi warganet juga harus hati-hati dan kritis, ya,”
tandasnya.


















