Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung sejumlah wilayah Kalimantan. Dalam tiga hari, sedikitnya 750 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Terkait hal ini, DPR mendesak agar pemerintah tak hanya mengejar api, tetapi juga memperkuat perlindungan terhadap warga.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengatakan peningkatan titik panas dalam beberapa hari terakhir menunjukkan karhutla sudah menjadi ancaman yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya berorientasi pada pemadaman.
Ini bukan lagi sekadar soal api di hutan dan lahan. Ketika asap sudah mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat dan penerbangan, serta berpotensi mengganggu kesehatan warga, maka keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,”
ujar Hetifah dalam keterangannya, Sabtu, 22 Agustus 2026.
518 Hotspot
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan 518 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat pada 19 Agustus 2026 di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Jumlah itu meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan hari sebelumnya.
Jika dihitung dalam periode 17–19 Agustus 2026, total terdapat 750 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut. Lonjakan ini menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla belum mereda dan masih berpotensi meluas.
Kalimantan Timur juga menghadapi kondisi serupa. Berdasarkan data BPBD Kalimantan Timur per 19 Agustus 2026, terdapat 413 titik karhutla dengan luas lahan dan hutan terbakar mencapai 936,95 hektare.
Di Kutai Barat, karhutla tercatat terjadi di 72 lokasi dengan luas area terbakar mencapai 415,51 hektare. Hetifah yang merupakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur meminta pemerintah tidak menunggu sampai dampak karhutla semakin besar.
Sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, saya tentu sangat prihatin. Kaltim juga menghadapi peningkatan karhutla. Kita tidak boleh menunggu sampai dampaknya semakin besar baru kemudian bergerak,”
tegasnya.
Personel Gabungan
Hetifah mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mengerahkan personel gabungan, memperkuat pemadaman darat, menggunakan water bombing, hingga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca.
Namun, seluruh upaya tersebut dinilai harus dibarengi dengan perlindungan masyarakat yang terdampak asap.
Pemadaman api harus terus dilakukan, tetapi masyarakat yang terdampak asap juga harus dilindungi. Pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan fasilitas kesehatan, ketersediaan masker yang sesuai, informasi kualitas udara, serta perlindungan khusus bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki kerentanan kesehatan,”
papar Hetifah.
Dia juga meminta BNPB bersama BPBD memperkuat sistem komando dan koordinasi di daerah yang mengalami peningkatan karhutla.
Menurutnya, setiap hotspot yang terdeteksi harus segera diverifikasi agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Yang kita perlukan adalah respons cepat berbasis data. Hotspot harus segera diverifikasi di lapangan. Jangan sampai ada jeda terlalu panjang antara deteksi, laporan, dan pemadaman,” ujarnya.
Selain pemadaman, Hetifah meminta pemerintah mulai menyiapkan skenario menghadapi kemungkinan karhutla berulang. Pasalnya, kondisi kering diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan dalam beberapa pekan ke depan.
BMKG memperkirakan kondisi minim pertumbuhan awan masih terjadi di sebagian wilayah Kalimantan. Musim hujan sendiri baru berpotensi datang sekitar pertengahan Oktober.
Artinya, kita masih memiliki periode risiko yang panjang. Jangan hanya berpikir bagaimana memadamkan api hari ini. Pemerintah harus menyiapkan skenario menghadapi kemungkinan karhutla berulang sampai kondisi cuaca kembali membaik,”
pungkasnya.
Hetifah menegaskan akan terus mendorong koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam menangani karhutla.
Ia meminta seluruh langkah penanganan dilakukan cepat, berbasis data, dan tidak mengabaikan keselamatan masyarakat yang berada di tengah kepungan asap.




















