Terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk periode 2026–2031 diyakini tak akan membuat rupiah menguat. Rupiah diperkirakan akan tetap melemah hingga lima tahun mendatang
Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini menilai sulit untuk membuat rupiah tetap kuat. Sebab, kepemimpinan baru di BI akan tetap berjalan seperti biasa. Hal itu ditambah banyak faktor eksternal dan internal BI yang jadi kendala sektor moneter.
Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah. Penyebab utamanya kepemimpinan BI diperkirakan akan tetap berjalan seperti biasa dan ditambah banyak faktor lain eksternal dan internal BI,”
kata Didik dalam keterangannya Minggu, 30 Agustus 2026.
Didik menjelaskan meski ada kepemimpinan baru di tubuh bank sentral, namun tak akan mungkin bisa mengubah faktor-faktor yang menjadi kendala selama ini.
Jadi, kepemimpinan baru saya prediksi tidak akan banyak mengubah sistem moneter dan rupiah seperti biasanya tetap akan lemah,”
tuturnya.
Rupiah Diramal Melemah
Didik menyebut pasar domestik yang besar seperti Indonesia tak menjamin ekonomi menjadi kuat setidaknya dilihat dari nilai tukar mata uangnya. Menurutnya, proyeksi melemahnya rupiah dalam lima tahun berdasarkan banyak faktor.
Namun, dengan skala ekonomi besar tersebut, mata uangnya tidak pernah bisa menguat karena begitulah struktur ekonomi Indonesia terbentuk lemah dalam sektor luar negerinya,”
jelasnya.
Menurutnya, BI bisa saja mempertahankan nilai tukar. Namun, sistem dan strukturnya akan berjalan seperti saat ini. Kebijakan yang ditempuh dinilai akan rutin seperti menaikkan suku bunga ketika nilai tukar rupiah melemah drastis.
Dengan suku bunga yang lebih tinggi ini diharapkan dapat menarik modal asing karena aset Indonesia memberikan imbal hasil lebih besar bagi investor,”
tuturnya.
Jurus Rupiah Kuat
Didik menilai tanpa pondasi serta daya saing luar negeri dan hanya mengandalkan domestik, maka lima tahun ke depan rupiah mustahil untuk stabil serta kuat.
Apalagi hanya dengan memainkan instrumen kebijakan suku bunga. Ekonomi Indonesia yang besar terus akan membayar berbagai kegiatan impor, utang luar negeri, dan semua transaksi internasional menggunakan devisa, dalam hal ini dolar AS,”
ujarnya.
Didik mengatakan, untuk menjadikan nilai tukar stabil dan kuat, maka orientasi kebijakan harus diubah menjadi berorientasi keluar (outward looking). Sebab, indonesia memerlukan lebih banyak transaksi bisnis yang memperoleh pendapatan signifikan dari luar negeri, bukan hanya dari konsumen domestik.
Ekonomi domestik yang sangat dominan hanya menghasilkan lebih banyak perputaran rupiah. Sementara itu, ekonomi perlu mengembangan kebijakan ekonomi yang berbasis ekspor yang akan mendatangkan cadangan devisa dolar, yang besar,”
jelasnya.
Didik menyampaikan dengan struktur ekonomi yang berorientasi ke dalam, dan lemah dalam orientasi keluar tercermin dari cadangan devisa Indonesia yang menjadi salah satu paling lemah di ASEAN.
Adapun cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026. Sementara, Singapura punya cadangan sekitar US$426,2 miliar, Thailand sekitar US$279,2 miliar. Lalu, Malaysia yang penduduknya lebih kecil dari Indonesia memiliki cadangan devisa US$132,6 miliar.
Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal,”
tuturnya.






















