Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah (Kadisdik Kalteng) soal sekolah di tengah kondisi kabut asap menuai sorotan tajam netizen.
Bukan hanya soal keputusan tidak meliburkan sekolah, tapi juga alasan yang disampaikan dalam rapat daring yang memicu perdebatan.
Dalam potongan video yang diunggah akun Instagram @voxarea, Kadisdik Kalteng menjelaskan dampak jika sekolah diliburkan, mulai dari operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), kantin sekolah, hingga kekhawatiran siswa justru pergi ke kafe.
Karena ketika sekolah diliburkan, berpengaruh juga pada dapur-dapur MBG. Kita mengerti, Bapak-Ibu ya. Bapak-Ibu, saya harap punya kebijaksanaan juga. Dapur MBG mati, kantin-kantin mati,”
ujar Kadisdik Kalteng dalam video yang diupload, Senin 31 Agustus 2026.
Ia kemudian menyebut kekhawatiran lain apabila siswa dipulangkan ke rumah.
Mereka ke kafe-kafe buat keributan, buat masalah. Nanti kita yang pusing,”
lanjutnya.
Sebagai gantinya, ia menyampaikan rencana agar siswa tetap masuk sekolah mulai pukul 08.00 WIB, dengan durasi setiap pelajaran kemungkinan dipangkas jadi sekitar 30 menit.
Potongan video itu pun langsung meledak di media sosial. Dalam waktu kurang dari 24 jam, unggahan @voxarea telah dibanjiri 103 ribu likes, 40,1 ribu komentar, dan 36,3 ribu kali share.
Kolom komentar sontak berubah menjadi ruang debat. Banyak netizen mempertanyakan skala prioritas dalam pernyataan tersebut, terutama ketika persoalan yang dibahas berkaitan dengan paparan kabut asap.
Ternyata menurut mereka lebih baik anak sekolah sakit terpapar asap daripada dapur MBG libur sementara,”
komentar @fikriibnum.
Komentar serupa disampaikan @roni_menong yang mempertanyakan skala prioritas dalam pernyataan tersebut.
Jadi menurut dia, Lebih baik anak-anak yg mati dari pada MBG yg mati…trus menurut dia kalo anak-anak ga sekolah lingkungan bakal rusuh anak-anak bakal nakal semua nyaa… Madep sekali pemikiran nyaaa,”
tulisnya.
Karhutla di Kalimantan
Sementara itu, @imfarraby membandingkan kebijakan tersebut dengan negara lain yang terdampak kabut asap akibat karhutla di Kalimantan.
Negara lain yg terdampak aja itu mereka libur loh sekolahnya, lah ini di daerah yg penyebab kebakaran nya malah anak sekolah tidak boleh libur, dibiarkan pada masuk, udah hilang banget akal sehat orang ini ya Allah ya rabb,”
ungkapnya.
Ada pula netizen yang menyoroti anggapan siswa akan pergi ke kafe jika sekolah diliburkan.
Kejauhan c*k anak SD main ke kafe, dan well sepertinya MBG lebih penting daripada anak-anak yang berisiko kena ISPA,”
tulis @chomaisme.
Komentar lain datang dari @meutiafachrina yang meminta pemerintah memiliki data sebelum menyimpulkan aktivitas anak ketika sekolah diliburkan.
Coba databasenya dulu ya pak sebelum ngomong, itu anak2 ke cafe based on your own kids kah?? Kayaknya pas covid juga bisa belajar online, malah aman makan dari orang tua, ga harus apa-apa mbg yaa,”
tulisnya.
Pernyataan tersebut kini menjadi perbincangan luas di media sosial, terutama karena muncul ketika persoalan kabut asap dan keselamatan siswa menjadi perhatian publik.




















