Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan meminta pemerintah tidak meremehkan risiko kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kelompok rentan.
Pernyataan itu disampaikan setelah seorang anak laki-laki berusia 11 tahun di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, meninggal setelah mengalami sesak napas.
“(Pemerintah) juga tidak boleh lupa, kelompok rentan yang memiliki penyakit bawaan seperti anak ini adalah yang paling terdampak kabut asap karhutla,”
kata dia, Jumat, 4 September 2026.
Anak tersebut meninggal pada Senin, 31 Agustus 2026, karena kondisi kesehatannya menurun meski sempat mendapat perawatan di RSUD Puruk Cahu setelah mengalami sesak napas.
Namun, Dinas Kesehatan Murung Raya belum mengaitkan kematian korban secara langsung dengan paparan asap maupun Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Korban diketahui memiliki riwayat penyakit ginjal yang lama dideritanya.
Asap Perburuk Kondisi
Kondisi itu membuat penyebab kematian korban memang belum bisa disimpulkan hanya dari keberadaan kabut asap. Di sisi lain, keluarga menyebut korban memiliki riwayat asma sejak kecil.
Tetangga korban juga mengungkap kondisi anak tersebut memburuk ketika kabut asap Karhutla mulai pekat di wilayah mereka.
Daniel menilai kasus tersebut harus disikapi hati-hati dan berdasarkan bukti medis. Dia mengingatkan agar ketidakpastian penyebab kematian tidak membuat pemerintah mengabaikan ancaman kabut asap terhadap warga yang memiliki penyakit bawaan.
Perlindungan terhadap kelompok rentan tidak seharusnya menunggu sampai jumlah korban bertambah.
“Penyakit penyerta justru menempatkan seorang anak dalam kelompok yang lebih rentan ketika kualitas udara memburuk. Apalagi bagi mereka yang memang memiliki riwayat penyakit bawaan,”
ucap Daniel.
Dia menegaskan pemerintah memang harus berhati-hati dalam menentukan penyebab kematian, tapi prinsip kehati-hatian itu juga harus diterapkan dalam melindungi masyarakat dari dampak karhutla.
“Pemerintah memang tidak boleh menyimpulkan penyebab kematian tanpa dasar medis. Namun, ketidakpastian penyebab tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mengecilkan risiko,”
sambung dia.
Percepatan
Daniel pun mendesak pemerintah mempercepat penanganan karhutla yang disebut masih signifikan dan meluas, terutama di Kalimantan dan Sumatra. Apalagi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi zona merah dengan ribuan titik panas.
“Karhutla masih signifikan dan semakin meluas di sejumlah wilayah, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sudah menjadi zona merah dengan ribuan titik panas,”
tutur dia.
Menurut Daniel, penanganan tidak cukup hanya memadamkan api. Pemerintah juga harus memastikan warga yang terdampak memperoleh perlindungan kesehatan, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
“Pemerintah juga harus memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan. Masker, alat kesehatan, oksigen, layanan kesehatan, dan kebutuhan lainnya harus tersedia, terutama bagi kelompok rentan,”
lanjut Daniel.
Pemerintah pusat pun harus ikut memperkuat daerah yang terdampak agar penanganan tidak bergantung pada kemampuan anggaran, fasilitas, dan personel masing-masing daerah.
“Jangan biarkan masyarakat dan daerah menghadapi keadaan ini sendirian. Pemerintah pusat harus memastikan seluruh kebutuhan perlindungan anak dan masyarakat tersedia selama kondisi udara belum aman,”
kata Daniel.



























