Ahli psikologi forensik Reza Indragiri menyoroti tiga kawasan di Jakarta yang memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai kerusuhan dan tragedi saat aksi massa, yakni Slipi, Grogol, dan Palmerah.
Ia menyebut kawasan tersebut sebagai “kawasan angker” karena rentetan peristiwa berdarah terus berulang, mulai dari huru-hara 1997–1998 hingga sejumlah tragedi yang menelan korban jiwa dan luka-luka dalam beberapa tahun terakhir.
“Di Jakarta ini ada kawasan yang saya sebut sebagai kawasan angker yakni Slipi, Grogol, Palmerah,”
kata Reza kepada Owrite.id, Jumat, 4 September 2026.
Dia berpendapat kawasan tersebut bukan sekadar titik yang sering digunakan sebagai lokasi aksi massa. Ada catatan sejarah panjang yang membuat tiga kawasan itu memiliki jejak kelam dalam perjalanan politik dan sosial Jakarta.
“Coba (publik) ingat kembali, tahun 1997-1998, huru-hara besar di Jakarta, yang kemudian berujung pada terjungkalnya Presiden Soeharto, berlangsung di tiga kawasan itu,”
ucap dia.
Para Korban
Lebih jauh dia mengingat kembali tragedi yang terjadi pada 2019. Saat itu, seorang remaja bernama Harun Al Rasyid menjadi korban dalam kerusuhan di kawasan tersebut.
“Tambah lagi, tahun 2019. Menyedihkan sekali, seorang bocah usia kalau tidak salah 15 tahun, namanya Harun Al Rasyid, dadanya ditembus peluru timah panas oleh pelaku tak dikenal. Lagi-lagi di kawasan yang sama,”
ujar dia.
Reza kemudian menyinggung tragedi yang terjadi pada 2025, ketika pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob Polri dalam demonstrasi. Menurut Reza, persoalan hukum dari tragedi tersebut juga masih menjadi pertanyaan.
“Bagaimana kelanjutan proses hukumnya? Alhamdulillah, saya tidak tahu. Selesai? Ternyata belum juga,”
kata dia.
Ia kemudian menyoroti tragedi terbaru yang kembali terjadi pada tahun ini. Reza menyebut Bambang Kurniawan, seorang pedagang cermin yang tinggal di kawasan Pejompongan, sebagai korban pengeroyokan oleh massa dalam kerusuhan beberapa hari lalu.
“Tahun ini, beberapa hari lalu, ada Bambang Kurniawan. Kehilangan (nyawa karena) telah dikeroyok habis-habisan oleh massa tak dikenal,”
ujar Reza.
Reza juga menyebut seorang pelajar SMA bernama Fatur yang turut menjadi korban kekerasan massa.
“Ada juga Fatur, murid SMA. Babak belur, teraniaya, luka parah separah-parahnya. Penyebabnya sama, yaitu dikeroyok juga oleh, lagi-lagi, kerumunan massa,”
jelas dia.
Benang Merah
Maka, Reza kembali menegaskan bahwa rangkaian tragedi tersebut memiliki satu benang merah dari sisi lokasi.
“Itu semua terjadi di mana? Saya ulangi. Terjadi di kawasan angker Slipi, Grogol, Palmerah, dan sekitarnya,”
tutur dia.
Ia bahkan mengaku memiliki pengalaman pribadi yang menurutnya memperkuat kesan “angker” kawasan Palmerah. Pengalaman itu berkaitan dengan pertemuannya dengan sosok Hercules.
“Saya sendiri punya pengalaman yang angker di kawasan Palmerah yaitu ketika saya bertemu dengan sosok yang harus saya katakan ‘angker’, yaitu Hercules,”
imbuh Reza.

























