Sosok Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Rosario De Marshal alias Hercules kembali menjadi sorotan setelah ormas pimpinannya dikaitkan dengan dinamika demonstrasi 27 Agustus 2026 yang menewaskan seorang warga Pejompongan, Jakarta Pusat.
Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri pun mengungkap kesan pribadi ketika pernah bertemu langsung dengan Hercules dalam sebuah acara diskusi di TV.
Bagi Reza, kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat melihat Hercules ternyata bukan kagum terhadap karisma ataupun wibawa.
“Terus terang, ya, saya harus memilih kata-kata yang tepat ketika ingin menyampaikan apa perasaan saya ketika berjumpa dengan Hercules saat itu,”
kata Reza kepada Owrite.id, Minggu, 6 September 2026.
Tafsir Publik
Ia berpendapat Hercules selama ini memang dikenal publik sebagai sosok jagoan, bahkan ada pula masyarakat yang mengenalnya dengan sebutan “bos preman”.
Reza mengatakan pertemuannya dengan Hercules terjadi ketika mereka hadir bersama sejumlah narasumber lain dalam sebuah forum diskusi di salah satu TV swasta.
“Bagi saya, ketika bertemu dengan Hercules, bukan ‘karisma’ pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan dia. Ya, terus terang, tampaknya kata ‘wibawa’ pun tidak begitu pas untuk saya sematkan kepada sosok yang berasal dari Timor Timur,”
kata Reza.
“Takut, (itu kata yang tepat). Sejujurnya, kata takut yang lebih representatif. Percikan hati saya yang menyala seketika ketika dari kejauhan melihat kedatangan seorang Hercules adalah perasaan takut,”
sambung dia.
Miring
Rasa takut tersebut tidak muncul begitu saja. Ingatannya langsung tertuju pada perjalanan dan berbagai kiprah Hercules yang selama bertahun-tahun telah menjadi perhatian publik.
“Ingatan saya mengalir ini, ingatan saya berputar dari satu masa ke masa berikutnya, mengenang apa saja kiprah yang sudah dilakukan oleh Hercules,”
ucap dia.
Reza menilai citra yang melekat terhadap Hercules juga tidak bisa dilepaskan dari berbagai pemberitaan media selama ini. Dia menyebut catatan mengenai Hercules yang paling banyak terekspos ke ruang publik cenderung bernada negatif.
“Apa boleh buat, dari waktu ke waktu catatan yang paling terekspos di ruang publik, berarti yang paling banyak dilaporkan atau diwartakan oleh media adalah catatan yang serba ‘miring’,”
tutur Reza.

























