Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap, permintaan sektor perumahan saat ini tengah melemah.
Hal ini tercermin dari realisasi kredit PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) yang masih rendah, dari dana penempatan yang diberikan pemerintah.
Purbaya mengatakan, pemerintah telah menempatkan dana sebesar Rp200 triliun ke lima Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Namun, realisasi penyaluran kredit di BTN masih sangat rendah baru sebesar Rp4,8 triliun atau 19 persen per 30 September, dari total dana Rp25 triliun.
Saya sebar di lima bank Rp200 triliun itu di Mandiri, BRI, BNI, BTN, BSI rata-rata penyerapannya sudah lumayan, kecuali BTN baru 19 persen. Uangnya akan saya pindahin ke tempat lain nanti,”
Purbaya dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Purbaya mengungkapkan, penyebab masih rendahnya penyaluran kredit itu, karena permintaan di sektor perumahan sedang melemah. Dia pun mengaku khawatir dengan kondisi ini.
Disini ada komisaris BTN? Tapi katanya pertamanya dia bilang kami akan serap malah kurang, ternyata baru segini dia serap. Ini menggambarkan demand di sektor perumahan lemah sebetulnya, jadi saya pikir waduh gawat kita nih,”
Purbaya.
Namun demikian, Purbaya meyakini permintaan sektor perumahan akan kembali naik seiring dengan pulihnya perekonomian. Salah satu faktor pemulihan ekonomi ini katanya, berasal dari penempatan dana pemerintah di perbankan.
Mungkin itu kan perlu ekonomi jalan dulu baru pelan-pelan dia tumbuh, jadi kita nggak bisa paksa orang beli rumah atau pinjam rumah ketika incomenya nggak jelas. Tapi dengan gerakannya seperti ini harusnya income akan balik secara bertahap 2026, saya pikir income dari sektor perumahan akan kembali sehat lagi.”
Purbaya.
Adapun hingga 30 September 2025 realisasi penyaluran kredit yang sudah dilakukan Bank Mandiri dari penempatan dana pemerintah adalah Rp40,6 triliun atau 74 persen dari total dana. Kemudian Bank BRI Rp33,9 triliun atau 62 persen.
Selanjutnya Bank BNI Rp27,6 triliun atau sudah 50 persen, Bank BTN realisasi penyaluran baru senilai Rp4,8 triliun atau 19 persen. Sedangkan Bank BSI Rp5,5 triliun atau 55 persen.

