Pernah lihat ada orang yang langsung sinis atau nggak suka sama seseorang cuma karena berasal dari negara lain atau punya budaya yang berbeda? Nah, sikap seperti ini sering dikaitkan dengan xenophobia.
Masalahnya, masih banyak yang mengira xenophobia itu sama dengan rasisme. Padahal, dua istilah ini beda, meski sama-sama bisa bikin orang lain merasa didiskriminasi.
Biar nggak asal paham, yuk kenalan sama xenophobia!
Xenophobia Itu Apa, Sih?
Menurut Alodokter, xenophobia adalah rasa takut, curiga, atau nggak suka secara berlebihan terhadap orang asing atau orang yang dianggap berbeda.
“Orang asing” di sini nggak cuma soal kewarganegaraan, tapi juga bisa karena budaya, bahasa, agama, atau kebiasaan yang nggak sama dengan kita.
Orang yang punya sikap xenophobia biasanya cenderung menjauhi, menolak, bahkan memusuhi kelompok yang dianggap berbeda.
Istilah xenophobia sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu xenos yang berarti orang asing dan phobos yang berarti rasa takut.
Jadi, Bedanya Sama Rasisme Apa?
Ini yang paling sering bikin orang ketuker. Padahal rasisme berhubungan dengan prasangka atau diskriminasi berdasarkan ras atau warna kulit, xenophobia lebih ke rasa takut atau penolakan terhadap orang yang dianggap “bukan dari kelompok kita”.
Contohnya gini, seseorang bisa aja bersikap nggak ramah ke turis atau pendatang dari negara lain, padahal rasnya sama. Nah, itu lebih dekat ke xenophobia.
Tapi kalau seseorang memperlakukan orang lain secara buruk hanya karena warna kulit atau rasnya, itu masuk ke rasisme.
Meski beda, dua sikap ini memang sering muncul barengan. Makanya banyak orang menganggap keduanya sama.
Kok Bisa Seseorang Punya Xenophobia?
Nggak ada penyebab tunggal. Menurut HaloSehat, xenophobia biasanya muncul karena gabungan banyak faktor.
Misalnya pernah punya pengalaman buruk dengan kelompok tertentu, kurang bergaul dengan orang dari budaya lain, sering terpapar hoaks atau ujaran kebencian di media sosial, sampai merasa kelompoknya sedang terancam.
Di beberapa situasi, kondisi ekonomi atau konflik sosial juga bisa bikin rasa curiga terhadap kelompok lain makin besar.
Ciri-Cirinya Kayak Gimana?
Xenophobia nggak selalu muncul dalam bentuk tindakan ekstrim. Kadang, bentuknya justru kelihatan “halus” dan sering dianggap biasa.
Beberapa contohnya antara lain:
- Selalu curiga sama orang dari negara atau budaya lain.
- Ogah berteman atau kerja bareng sama orang yang dianggap berbeda.
- Sering nge-judge budaya lain tanpa benar-benar mengenalnya.
- Ngerasa kelompok sendiri paling unggul.
- Melontarkan komentar yang merendahkan budaya atau kebiasaan orang lain.
- Kalau terus dibiarkan, sikap kayak gini bisa berkembang jadi diskriminasi atau bahkan konflik.
Apakah Xenophobia Termasuk Gangguan Mental?
Meski ada kata phobia, xenophobia belum dikategorikan sebagai gangguan mental atau jenis fobia dalam dunia medis.
Namun, World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya mengurangi prasangka dan diskriminasi karena bisa berdampak pada kesehatan mental serta memicu konflik sosial.
Karena itu, kalau rasa takut atau kebencian terhadap kelompok tertentu sudah mengganggu kehidupan sehari-hari atau mendorong perilaku diskriminatif, nggak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Gimana Cara Biar Nggak Jadi Xenophobic?
Kuncinya simpel yaitu lebih banyak kenal, lebih sedikit nge-judge. Coba buka diri buat ngobrol sama orang dari latar belakang yang berbeda, cari tahu budaya mereka, dan jangan gampang percaya sama info yang belum jelas kebenarannya.
Soalnya, makin banyak kamu mengenal orang lain, biasanya rasa curiga bakal pelan-pelan berkurang. Ingat, beda bukan berarti bahaya. Justru dari perbedaan itulah kita bisa belajar banyak hal baru.




















