Kata bajingan jadi sorotan usai Presiden Prabowo mengucapkan itu dalam pidatonya di peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026.
Kejadian itu bermula Presiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat untuk saling memaafkan, saling mengerti, saling mengasihi, saling membantu, tidak ikut-ikut budaya caci maki, dengki, dan budaya curiga.
Menurutnya, tidak ada keberhasilan yang dicapai jika masih ada pertikaian.
Ia mengatakan perbedaan suku, latar belakang, maupun afiliasi politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk bertikai.
Kemudian Prabowo sempat bertanya kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti terkait kata “bajingan”.
Presiden boleh ngomong bajingan? Aku enggak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan ini, boleh enggak?”
tanya Prabowo.
Menurutnya, bajingan tidak termasuk kata kasar. Ia menjelaskan kata tersebut biasanya keluar kalau dirinya terlalu bersemangat.
Ini kan tidak termasuk kasar, bajingan ya bajingan. Bajingan, bajingan bahasa apa itu? Bahasa betawi ya?Memang saya lahir di Betawi, jadi maaf kalau saya semangat kata-kata Betawi keluar. Sorry ye,”
tambahnya.
Ucapan Prabowo tersebut pun langsung viral. Banyak dari netizen yang menyayangkan ucapan Prabowo, pasalnya dalam keseharian bajingan merupakan kata yang kasar.
Lantas apa sih sebenarnya kata bajingan itu? Berikut Owrite rangkum penjelasannya dari berbagai sumber, Senin, 13 Juli 2026.
Asal Usul Bajingan
Bagi masyarakat Jawa, bajingan merupakan seorang yang mengemudikan gerobak. Kendaraan tersebut kerap digunakan masyarakat Jawa untuk mengangkut hasil bumi. Biasanya gerobak ditarik dengan sapi atau kerbau.
Perlu diketahui, ada dua versi sebutan bajingan pada pengemudi gerobak sapi. Versi pertama adalah orang yang memang mengendalikan jalannya sapi, sedangkan versi lainnya adalah para pengawal yang disewa oleh saudagar pemilik gerobak sapi demi keamanan muatannya dari bahaya perampokan.
Seiring perubahan zaman, pekerjaan bajingan saat ini cenderung untuk atraksi festival dan tur wisata. Hanya di daerah pedesaan tertentu yang masih mengunakan jasa bajingan sebagai pengangkut hasil bumi.
Misalnya saja Festival Wisata Gerobak sapi dan bajingan di kompleks Candi Prambanan Sleman.
Hampir setiap tahun selalu ada parade dan festival bajingan dan gerobak sapinya di daerah Yogyakarta daerah Yogyakarta.
Memiliki Konotasi Negatif
Saat ini, kata bajingan memiliki konotasi negatif sebagai kata yang sangat kasar. Hal itu bermula karena lambatnya perjalanan seekor sapi mengakibatkan sang juragan menjadi tidak sabar menunggu, dan terkadang si pengawal gerobak sapi nakal dan mencuri sebagian muatannya.
Hal itu membuat juragan pemilik gerobak mengeluarkan kata umpatan “dasar bajingan”, dan juga digunakan dalam konteks geopolitik merujuk kepada pendukung Tiongkok Beijing dan Partai Komunis Tiongkok yang berkaitan dengan Tiongkok Beijing pada masa pemerintahan Presiden Suharto.
Berdasarkan buku Mengulas yang Terbatas, Menafsir yang Silam oleh Mahasiswa Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma 2015, bajingan menurut KBBI merujuk pada kata dasar bajing yang artinya tupai, yaitu binatang pengerat yang kerap mencuri kelapa dan dianggap pengganggu masyarakat.
Kata bajing diturunkan menjadi bajingan untuk menggambarkan sifat jahat seseorang. Penafsiran KBBI itu kemudian dikonsumsi oleh masyarakat tanpa melihat sejarah asal mula kemunculan kata tersebut.





















