Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, kembali menanggapi kelanjutan pengusutan kasus serangan air keras atas Andrie Yunus.
Menurutnya, penegakan hukum atas tragedi penyiraman tersebut terkesan lambat dan janggal. Bukan karena kendala teknis dan administratif, tapi kental nuansa politis dan non-yuridis.
Penyerahan jabatan Kepala BAIS yang dinyatakan Kapuspen TNI sebagai ‘bentuk tanggung jawab’ membawa nuansa politis. Karena itu harus diarahkan pada pertanggungjawaban yuridis di peradilan umum,”
kata Usman dalam keterangan resmi, dikutip Minggu, 29 Maret 2026.
Diketahui, di tengah pengusutan kasus tersebut, pihak kepolisian sempat merilis dua inisial (BHC dan MAK) dengan wajah pelaku yang menyerang Andrie. Namun, Danpuspom TNI pada 18 Maret 2026 lalu tiba-tiba merilis empat inisial anggota TNI (NDP, SL, BHW dan ES), tanpa kejelasan bukti-bukti yang diperoleh, dan peran masing-masing.







