Industri tenun ikat di Lima desa Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.
Dalam setahun terakhir, sentra tenun di wilayah tersebut berhasil menciptakan 67 lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan warga hingga 50 persen, dengan 97 persen perajinnya merupakan perempuan.
Program Desa Sejahtera Astra Sumba Timur 2025 yang mengembangkan sentra tenun di Kampung Raja Prailiu, Mbatakapidu, Mauliru, Lambanapu, dan Kawangu telah menjangkau 1.295 masyarakat setempat.
Tak hanya membuka peluang kerja, industri tenun ikat sekarang jadi sumber penghidupan bagi sekitar 250 perajin.
Menariknya, sebanyak 97 persen di antaranya adalah perempuan yang menjadikan keterampilan menenun sebagai penopang ekonomi keluarga.
Warisan Budaya Sumba
Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto mengatakan pelestarian tenun ikat tidak hanya bertujuan menjaga warisan budaya Sumba, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui Desa Sejahtera Astra, kami percaya bahwa setiap daerah memiliki potensi yang dapat menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat,”
kata Boy dalam keterangan resminya.
Untuk memperkuat daya saing para perajin, program tersebut juga memberikan pendampingan, mulai dari peningkatan keterampilan, pengembangan produk, hingga memperluas akses pemasaran. Hasilnya, seluruh produk tenun yang dihasilkan perajin kini telah terserap pasar.
Pengembangan sentra tenun ini turut didukung oleh penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2023 Reza Permadi.
Melalui inisiatif Digital Transformation for Sustainable Tourism, Culture & Heritage, Reza mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan desa wisata sekaligus memperluas pasar bagi UMKM tenun ikat.
Melalui digitalisasi ini, tidak hanya visibilitas destinasi wisata yang meningkat, tetapi juga membuka peluang bagi produk tenun ikat Sumba untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Selain itu, masyarakat juga mendapatkan pendampingan agar mampu memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan usaha tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Sumba Timur.

























