Warga Kampung Wae Peci, Desa Golo Mangung, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku masih menunggu perhatian pemerintah setelah rumah mereka rusak akibat gempa.
Korban gempa, Lopo Matius (66), menyebut pemerintah daerah sempat datang untuk memotret rumah yang rusak, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut maupun posko pemerintah di kampung tersebut.
Dari kemarin ini, rumah-rumah kami disini sangat rusak, rumah saya rusak semua,”
katanya saat dihubungi Owrite, Senin, 24 Agustus 2026.
Matius menambahkan, dirinya bersama keluarganya masih bertahan di tengah kondisi rumah yang mengalami kerusakan.
Ia mengaku, belum melihat pemerintah kabupaten maupun pemerintah desa datang untuk mengecek langsung kondisi mereka setelah pendataan awal.
Tidak ada nampak Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur ataupun pemerintah desa yang datang ke sini, bagaimana lihat keadaan saya, bagaimana lihat keadaan kami di sini,”
ucapnya.
Menurut Lopo Matius, kondisi tersebut membuat warga harus mengupayakan sendiri tempat perlindungan sementara.
Ia mengatakan, dirinya hanya bersama dua orang lainnya, termasuk istrinya membangun pos-pos tempat mereka bertahan secara mandiri.
Dan kami dua orang dan mama ini yang ada di sini. Dan pos-pos semuanya saya buat sendiri,”
ujarnya.
Sebatas Dokumentasi
Lopo Matius menuturkan, pemerintah sebelumnya memang sempat mendatangi wilayah tersebut. Namun, kedatangan itu menurutnya hanya untuk mendokumentasikan rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Ya, yang kemarin itu ada di dusun, tanggal 16 itu dia datang foto. Mereka datang foto saja, foto rumah,”
ungkapnya.
Setelah pendataan melalui dokumentasi tersebut, Lopo Matius mengaku belum melihat adanya tindak lanjut dari pemerintah untuk membantu memperbaiki kondisi tempat tinggal maupun menyediakan posko bagi warga terdampak.
Dijelaskannya, bantuan yang sejauh ini diterima warga dari pemerintah daerah hanya berupa satu kilogram beras. Sementara bantuan dari pihak kecamatan dan kepolisian juga berupa beras.
Selama ini baru dapat bantuan dari Pemda 1 kilogram beras dan kecamatan sama polisi 3 mug beras itu, 4 mi goreng, dan 16 air mineral,”
ucapnya.
Matius berharap, pemerintah tidak berhenti pada pendataan dan dokumentasi kerusakan rumah. Menurutnya, warga terdampak membutuhkan kehadiran pemerintah secara langsung, terutama untuk memastikan keselamatan, tempat tinggal sementara, serta kebutuhan dasar setelah gempa.
Kondisi yang disampaikan Matius menggambarkan keluhan warga di Kampung Wae Peci yang merasa belum mendapatkan penanganan memadai setelah bencana.
Mereka berharap pemerintah segera turun kembali ke lokasi untuk memverifikasi kondisi korban dan memastikan bantuan benar-benar diterima masyarakat terdampak. Pasalnya, Kampung Wae Peci menjadi pusat hempa susulan selama ini.






















