Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendirikan dua rumah sakit (RS) lapangan berbasis tenda udara atau inflatable untuk menangani korban gempa bumi di tujuh kabupaten Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dua rumah sakit lapangan berbasis tenda itu didirikan setelah banyak fasilitas kesehatan alami kerusakan akibat gempa.
Ketika bangunan faskes rusak atau retak, pelayanan harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman agar keselamatan pasien dan tenaga kesehatan tetap terjamin,”
kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin, dalam keterangannya, Senin, 31 Agustus 2026.
Agus menjelaskan lebih dari 185 ribu warga terdampak gempa kini tersebar di 444 titik pengungsian. Sementara, total penduduk terdampak di tujuh kabupaten, yakni Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada mencapai 1,91 juta jiwa.
Besarnya jumlah korban membuat kebutuhan pelayanan kesehatan meningkat. Namun, fasilitas kesehatan tak bisa digunakan secara optimal akibat rusak atau retak.
Untuk memastikan layanan medis tetap berjalan, Kemenkes mendirikan dua RS lapangan berbasis tenda udara di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai.
RS lapangan di Aeramo bahkan telah melakukan tindakan operasi terhadap delapan pasien hingga Selasa, 25 Agustus 2026. Keberadaan fasilitas tersebut memungkinkan korban luka berat mendapatkan tindakan medis meski kondisi fasilitas kesehatan permanen terdampak bencana.
Selain membangun RS lapangan, Kemenkes perkuat kapasitas 70 rumah sakit dan 444 puskesmas di wilayah terdampak. Sebanyak 207 relawan medis dari pusat telah diberangkatkan, disusul 78 relawan tambahan yang akan bertugas selama 14 hari.
Mobilisasi tenaga kesehatan itu dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC). Tenaga yang dikerahkan berasal dari berbagai profesi untuk mengisi kebutuhan layanan mulai dari dokter spesialis bedah dan ortopedi hingga tenaga gizi dan sanitasi.
Salah satu tim medis yang diterjunkan adalah tim ortopedi dari RSUD Dr. Soetomo bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Chief Resident Orthopaedi dan Traumatologi FK Unair, dr. Alfin Bakhtiar Ilhami mengatakan timnya sudah menangani 18 pasien dalam sepekan terakhir.
Dari jumlah itu, empat pasien mendapat perawatan konservatif. Sementara, 14 pasien lainnya harus menjalani operasi.
Tim juga menangani kasus kompleks berupa pasien patah tulang multipel yang mengenai tulang selangka, lengan bawah, dan pergelangan kaki.
Alfin mengakui operasi yang dilakukan pihaknya cukup kompleks karena menangani tiga bagian tubuh secara bersamaan. Pun, saat melakukan Tindakan operasi, tim kedokteran masih merasakan guncangan imbas gempa susulan.
Di tengah tindakan, kami bahkan sempat merasakan gempa susulan. Namun, karena kami beroperasi di dalam RS lapangan berstruktur balon (inflatable), tindakan tetap dapat dilanjutkan dengan aman dan hasil maksimal,”
ujar Alfin.
Selain menangani korban luka akibat gempa, Kemenkes mengantisipasi ancaman gangguan kesehatan di lokasi pengungsian. Hingga kini, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) jadi keluhan yang paling banyak ditemukan dengan 9.668 kasus.
Petugas juga mencatat 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan berupa vaksinasi lengkap.
Kemenkes memastikan ketersediaan obat, alat kesehatan, logistik medis, dan sistem rujukan tetap terjaga di wilayah terdampak.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat di pengungsian untuk menjaga kebersihan lingkungan dan segera mendatangi posko kesehatan terdekat apabila mengalami keluhan kesehatan.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu 30 Agustus 2026, dampak gempa berupa 111 orang meninggal dunia dan 1.631 orang mengalami luka-luka.
Adapun sebanyak 95.567 rumah dilaporkan mengalami kerusakan. BNPB sejauh ini masih memverifikasi tingkat kerusakannya.


























