Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa itu merupakan gempa dangkal dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault.
Pj. Kendali Mutu Data Gempa dan Tsunami BMKG Pepen Supendi menjelaskan Flores Back-Arc Thrust merupakan sistem sesar naik yang berada di sebelah utara busur gunung api Bali hingga Nusa Tenggara.
Secara sederhana, Flores Back-Arc Thrust adalah sistem sesar naik yang berada di sebelah utara busur gunung api Bali hingga Nusa Tenggara. Masyarakat dapat membayangkannya seperti dua bagian kerak bumi yang saling terdorong,”
kata Pepen kepada Owrite, Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurut Pepen, aktivitas tektonik membuat batuan di sekitar sesar mengalami tekanan dan menyimpan energi. Saat tegangan yang terakumulasi mencapai kondisi tertentu, batuan bisa bergeser secara tiba-tiba dan melepaskan energi dalam bentuk gempa bumi.
Akibat proses tektonik, batuan mengalami tekanan dan menyimpan energi. Ketika tegangan yang terakumulasi sudah cukup besar dan batuan mengalami pergeseran secara tiba-tiba, energi tersebut dilepaskan dalam bentuk gempabumi,”.
ujarnya
Bali hingga Wetar
Dijelaskan Pepen, istilah back-arc merujuk pada posisi sistem sesar yang berada di belakang atau di sebelah utara busur gunung api Sunda-Banda.
Sistem itu membentang dari wilayah utara Bali dan Lombok. Kemudian, melewati bagian utara Sumbawa dan Flores hingga ke arah Wetar.
Sementara, istilah thrust atau sesar naik menggambarkan mekanisme pergerakan batuan, ketika salah satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok lainnya.
Sementara ‘thrust‘ atau sesar naik berarti pergerakan batuannya didominasi oleh satu blok batuan yang bergerak naik relatif terhadap blok lainnya,”
kata Pepen.
Hasil analisis BMKG terhadap gempa M7,7 Flores pada 15 Agustus 2026 menunjukkan sumber gempa tersebut berkaitan dengan Flores Back-Arc Thrust.
Gempa M7,7 Flores pada 15 Agustus 2026 berdasarkan analisis BMKG merupakan gempa dangkal dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault yang bersumber dari Flores Back-arc Thrust,“
ujarnya.
Meski jadi sumber gempa besar, Pepen mengingatkan Flores Back-Arc Thrust tak bisa dipahami sebagai satu garis sesar yang sederhana.
Menurutnya, sistem tersebut terdiri atas sejumlah segmen yang punya karakteristik berbeda. Karena itu, gempa besar yang terjadi pada satu bagian tidak serta-merta menunjukkan seluruh tegangan di sepanjang sistem sesar telah dilepaskan.
Yang perlu dipahami juga, Flores Back-arc Thrust bukan satu garis sesar yang sederhana. Sistem ini terdiri atas beberapa segmen yang karakteristiknya dapat berbeda,” jelasnya.
ujarnya.
Selain mekanisme gempa utama, pola gempa susulan pascagempa M7,7 juga jadi perhatian BMKG untuk memahami kondisi struktur bawah permukaan Flores.
Pepen mengatakan ribuan gempa susulan yang dipantau tidak tersebar secara acak. Sejumlah gempa justru terkonsentrasi pada beberapa wilayah atau membentuk klaster.
Menariknya, gempa-gempa susulan yang kita pantau tidak tersebar secara acak. Ada beberapa klaster atau konsentrasi gempa,”
kata Pepen.
Pemetaan terhadap ribuan hiposenter atau titik pusat gempa di bawah permukaan tersebut bisa memberikan gambaran mengenai bagian kerak bumi yang masih mengalami penyesuaian setelah gempa utama.
Data itu juga membantu BMKG memahami geometri struktur sesar yang berada di bawah permukaan.
Dengan memetakan ribuan hiposenter tersebut, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai bagian-bagian kerak bumi yang sedang mengalami penyesuaian dan membantu kita memahami geometri struktur sesar di bawah permukaan,”
ujarnya.



























