Pergerakan kekayaan para konglomerat Indonesia kembali menunjukkan dinamika yang fluktuatif. Berdasarkan data real-time Forbes per 17 April 2026, sejumlah nama lama masih mendominasi daftar orang terkaya di Tanah Air. Namun, perubahan nilai aset tetap terjadi, hal ini dipengaruhi oleh kinerja pasar global, terutama di sektor energi, perbankan, dan komoditas.
Naik-turunnya kekayaan para taipan ini tidak terlepas dari berbagai faktor, mulai dari pergerakan harga batu bara, performa saham, hingga ekspansi ke sektor energi baru terbarukan yang kini semakin diminati. Transformasi bisnis dan diversifikasi usaha menjadi kunci dalam menjaga stabilitas kekayaan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berikut lima konglomerat terkaya di Indonesia versi Forbes real-time 2026, lengkap dengan sumber kekayaan dan pergerakan asetnya:
1. Prajogo Pangestu
Prajogo Pangestu menempati posisi teratas dengan kekayaan mencapai US$27,3 miliar atau sekitar Rp469 triliun (kurs US$1 = Rp17.185). Secara real-time, kekayaannya meningkat sekitar US$245,6 juta (0,91 persen) dari hari sebelumnya. Secara global, ia berada di peringkat ke-90 orang terkaya dunia.
Kenaikan ini didorong oleh ekspansi agresif di sektor energi dan petrokimia melalui Barito Pacific. Transformasi bisnis dari industri kayu ke energi, termasuk pengembangan Chandra Asri sebagai produsen petrokimia besar, memperkuat posisinya di tengah tren transisi energi.
2. Low Tuck Kwong
Di posisi kedua, Low Tuck Kwong mencatat kekayaan sebesar US$17,9 miliar atau sekitar Rp307,6 triliun, naik sekitar US$149,9 juta (0,84 persen).
Sebagai pemilik Bayan Resources, kekayaannya sangat dipengaruhi oleh harga batu bara global. Pelemahan harga komoditas berdampak langsung pada valuasi asetnya. Meski demikian, upaya diversifikasi ke energi terbarukan dan proyek infrastruktur seperti kabel bawah laut menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga pertumbuhan.
3. R. Budi Hartono
R. Budi Hartono berada di peringkat ketiga dengan kekayaan US$17,3 miliar atau sekitar Rp297,3 triliun, turun US$233,3 juta (-1,33 persen).
Sebagian besar asetnya berasal dari kepemilikan di Bank Central Asia (BCA), salah satu bank terbesar di Indonesia. Selain sektor perbankan, bisnis keluarga Hartono juga merambah industri rokok, elektronik (Polytron), dan platform digital seperti Blibli. Pondasi bisnis yang kuat membuat posisinya relatif stabil meski terjadi koreksi.
4. Anthoni Salim
Anthoni Salim menempati posisi keempat dengan kekayaan sebesar US$12 miliar atau sekitar Rp206,2 triliun, turun US$73,1 juta (-0,60 persen).
Melalui Salim Group, ia mengelola bisnis lintas sektor, mulai dari makanan (Indofood), telekomunikasi, hingga energi dan pertambangan. Diversifikasi portofolio menjadi faktor utama yang menjaga eksistensinya di jajaran konglomerat papan atas.
5. Tahir dan Keluarga
Berbeda dari yang lain, Tahir menjadi satu-satunya yang mencatat lonjakan signifikan. Kekayaannya mencapai US$9,7 miliar atau sekitar Rp166,6 triliun, meningkat US$518,8 juta (4,97 persen).
Kinerja positif ini didorong oleh pertumbuhan bisnis Mayapada Group yang bergerak di sektor perbankan, properti, dan layanan kesehatan. Strategi diversifikasi yang merata membuatnya mampu tumbuh di tengah tekanan ekonomi global.
Secara umum, konglomerat dengan portofolio bisnis terdiversifikasi terutama yang mulai merambah energi baru dan sektor jasa cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar. Sebaliknya, ketergantungan pada komoditas seperti batu bara masih menjadi faktor risiko utama terhadap fluktuasi kekayaan. Ke depan, pergeseran menuju energi hijau berpotensi mengubah peta kekuatan ekonomi para konglomerat Indonesia.



