Pejabat tinggi dari Singapura bereaksi terkait pengenaan biaya tol di Selat Malaka. Hal ini dipicu oleh upaya Iran untuk mengenakan biaya pada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kemudian, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengambil peluang yang sama terkait pengenaan pajak terhadap kapal yang melintasi Selat Malaka.
Namun, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengatakan bahwa perjalanan melalui Selat Malaka dan Singapura harus tetap gratis untuk semua dan pihaknya tidak akan mendukung upaya apa pun untuk membatasinya.
Hak untuk melintas dijamin untuk semua orang. Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup, mencegat, atau mengenakan biaya tol di lingkungan kami,”
kata Balakrishnan, dikutip dari Financial Post, Kamis, 23 April 2026.
Perbedaan sikap pun terlihat antara Menlu Singapura dan Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa, yang memandang selat tersebut secara berbeda.
Selat Malaka Urat Nadi Perdagangan Global

Selat Malaka, yang berbatasan dengan Singapura, Malaysia, dan Indonesia adalah jalur perdagangan utama untuk energi dan barang antara Samudra Hindia dan Pasifik, yang dianggap sebagai titik ekonomi utama, mirip dengan Selat Hormuz atau Terusan Suez dan Panama.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada awal April juga menyoroti posisi Indonesia di sepanjang Selat Malaka, serta Selat Sunda dan Makassar, yang menurutnya dilalui oleh 70 persen energi dan perdagangan Asia Timur.
Apakah kita menyadari betapa pentingnya Indonesia?”
kata Prabowo pada 8 April lalu.
Kita harus memahami bahwa kita selalu menjadi fokus perhatian dunia. Itulah sebabnya kita juga harus memimpin bangsa ini dengan baik, benar, dan dapat diandalkan,”
ujarnya.
Perbedaan Sikap dan Tarik Ulur Kepentingan

Komentar Prabowo kontras dengan jaminan Balakrishnan bahwa Singapura, Malaysia, dan Indonesia semuanya selaras dalam mempertahankan jalur perdagangan bebas.
Kita semua adalah ekonomi yang bergantung pada perdagangan. Kita semua tahu bahwa menjaga jalur perdagangan tetap terbuka adalah demi kepentingan kita,”
ungkap Balakrishnan.
Intinya di sini adalah bahwa ketiga negara memiliki kepentingan strategis dan selaras secara strategis dalam menjaga jalur perdagangan tetap terbuka. Itu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh di banyak tempat lain,”
lanjutnya.
Balakrishnan menambahkan bahwa kebijakan jalur perdagangan bebasnya telah disampaikan kepada China dan AS.
Ketika ditanya apakah Singapura pernah ditekan oleh negara lain untuk mengubah posisinya, ia mengatakan belum, dan tidak akan pernah mengubah aturan itu.
Belum, bagi kami, dan mereka mungkin akan melakukannya,”
imbuhnya.



