Indonesia mulai serius menjajaki rantai pasok global rare earth elements (REE) atau mineral tanah jarang. Ini merupakan komoditas strategis yang kini diperebutkan banyak negara untuk industri kendaraan listrik, teknologi tinggi, hingga pertahanan.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama strategis antara PT TIMAH Tbk dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) dalam pengembangan pengolahan slag timah dan REE di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kerja sama tersebut dituangkan dalam Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka, sebagai bagian dari agenda hilirisasi mineral kritis nasional.
Direktur Utama PT PERMINAS Gilarsi Wahju Setijono mengatakan pengembangan rare earth menjadi langkah penting untuk memperkuat kedaulatan mineral Indonesia di tengah ketatnya persaingan global mineral strategis.
“Setelah perjuangan panjang akhirnya kami menyepakati sebuah kolaborasi antara PT TIMAH dan PERMINAS. Ini bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret untuk memulai perjalanan baru dalam membangun kedaulatan mineral Indonesia,”
kata Gilarsi dalam keterangannya, dikutip Senin, 25 Mei 2026.
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan industri rare earth di Indonesia adalah penguasaan teknologi pengolahan yang selama ini masih terbatas dan dikuasai negara lain.
“Teknologi pengolahan ini memang cukup strategis dan selama ini banyak dikunci oleh negara lain. Karena itu kami berupaya menghadirkan partner yang tepat agar proses pengolahan bisa dipercepat,”
ujar dia.
REE merupakan kelompok mineral kritis yang dibutuhkan dalam industri baterai kendaraan listrik, magnet permanen, semikonduktor, turbin angin, hingga teknologi militer modern. Selama ini, rantai pasok dan teknologi pengolahan rare earth global masih didominasi sejumlah negara besar.
Direktur Utama PT TIMAH Restu Widiyantoro mengatakan kerja sama tersebut membuka peluang baru bagi perusahaan untuk naik kelas dari sekadar pengelola bijih timah menjadi pemain hilirisasi mineral strategis nasional.
“Selama ini PT TIMAH hanya fokus mengelola bijih timah dari hulu sampai hilir untuk ekspor. Dengan adanya kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas melalui pengembangan hilirisasi dan pengelolaan mineral strategis,”
jelas Restu.
Slag timah yang selama ini dianggap limbah produksi ternyata menyimpan potensi ekonomi besar karena mengandung mineral tanah jarang bernilai tinggi.


