Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Gelombang Serangan AS ke Iran Buat Pasar Khawatir, Harga Minyak Dijual ke US$95,45 per Barel

Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa perang di Iran akan berlangsung lama dan mengganggu pasokan energi dalam jangka waktu panjang.

Pengeboran Minyal Lepas Pantai. (Sumber: Unsplash/Sheng Hu )
Pengeboran Minyal Lepas Pantai. (Sumber: Unsplash/Sheng Hu )

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Kamis, setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang baru serangan militer terhadap Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa perang di Iran akan berlangsung lama dan mengganggu pasokan energi dalam jangka waktu panjang.

Dilansir dari CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman Juli naik 2,94 persen menjadi US$92,68 per barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus naik 2,52 persen menjadi US$95,45 per barel.

Dalam sebuah unggahan di X, United States Central Command menyatakan bahwa pasukan Amerika telah mulai melancarkan serangan pertahanan diri tambahan hari ini pada pukul 17.15 waktu ET, terhadap beberapa target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi.

Iklan

Militer AS mengatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut.

Iran Balas Rudal dan Drone ke Kapal AS

IRGC Iran luncurkan rudal balistik.
IRGC Iran luncurkan rudal balistik. (Foto: WANA).

Sementara, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal AS yang beroperasi di Selat Hormuz.

Serangan terbaru ini terjadi menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang memperingatkan bahwa Washington akan memperkuat respons militernya terhadap Iran, sembari terus mendesak Teheran untuk mencapai kesepakatan dengan AS.

Meskipun konflik AS dan Iran meningkat, Rystad Energy mengatakan pada hari Kamis bahwa pasar minyak berada dalam posisi yang lebih baik untuk menyerap gangguan dibanding krisis-krisis sebelumnya. Kondisi ini didukung oleh rekor ekspor minyak mentah AS, melemahnya permintaan dari China, serta adanya jalur ekspor alternatif yang mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Namun, Wakil Presiden Senior perusahaan konsultan tersebut, Jorge Leon memperingatkan bahwa peluang tercapainya terobosan diplomatik dalam waktu dekat telah berkurang. Akibatnya, harga minyak tetap rentan terhadap fluktuasi tajam seiring para investor menilai apakah eskalasi terbaru ini akan tetap terkendali atau berkembang menjadi konflik yang lebih berkepanjangan.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.