Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengungkapkan masih terdapat sejumlah desa di Indonesia yang belum memiliki akses listrik dan bergantung pada genset berbahan bakar solar yang hanya beroperasi sekitar 4-5 jam setiap hari.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pengembangan energi terbarukan berbasis koperasi desa guna memperluas akses energi sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Ferry mengatakan Kementerian Koperasi saat ini tengah mengembangkan model pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dapat diterapkan di desa-desa terpencil melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. PLTS tersebut berkapasitas 6 megawatt yang akan menjadi pilot project di Sembur Laut, di Pulau Sumber Laut, Kota Batam.
Dalam waktu dekat sudah bisa diresmikan untuk menjadi model percontohan dan harapannya nanti di desa-desa yang belum memiliki listrik ini bisa direplikasi di desa-desa tersebut,”
kata Ferry dalam acara Forum Ekonomi Hijau bertajuk Pengembangan Ekosistem dan Sumber Daya yang diselenggarakan Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
PLTS Koperasi Desa Jadi Solusi Ketergantungan Solar

Menurut Ferry, sejumlah desa yang belum terjangkau jaringan listrik masih mengandalkan solar sebagai sumber energi utama. Biaya operasional yang tinggi membuat masyarakat di wilayah tersebut harus menanggung beban yang cukup besar. Sehingga, pengembangan energi terbarukan dinilai dapat menjadi solusi untuk menghadirkan akses listrik yang lebih terjangkau sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat desa.
Dalam kesempatan itu, Ferry menegaskan bahwa koperasi memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Kementerian Koperasi pun terus mendorong pengembangan koperasi berbasis energi terbarukan agar dapat menjadi instrumen kemandirian ekonomi masyarakat.
Untuk memperkuat peran tersebut, Kementerian Koperasi mendorong berbagai kegiatan perkembangan koperasi berbasis energi terbarukan, sehingga instrumen kemandirian ekonomi desa itu juga bisa berkembang secara bersamaan,”
ujarnya.
Tantangan Transisi Energi Masih Besar
Meski memiliki potensi besar, Ferry menilai pengembangan ekonomi hijau masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, koordinasi lintas sektor, hingga kebutuhan pembiayaan yang inovatif.
Karena itu, diperlukan kebijakan dan pembiayaan yang inovatif agar pembangunan hijau juga dapat berjalan secara inklusif,”
bebernya.
Ferry menambahkan, transformasi menuju ekonomi hijau tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah maupun pelaku usaha besar, tetapi juga harus tumbuh dari tingkat komunitas dan masyarakat.
Saya berharap forum ini bisa menghasilkan sesuatu rekomendasi yang menjadi referensi bagi semua stakeholder,”
jelasnya.


