Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup tak sejalan pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Rupiah melemah 0,24 persen menjadi Rp17.995 per dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan IHSG menguat tipis 0,87 persen ke level 5.744.
Nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp15,2 triliun dengan melibatkan 22,3 miliar saham dalam 1,6 juta kali transaksi. Sebanyak 418 saham naik, 311 tidak bergerak, dan 230 turun.
Dilansir dari Stockbit, sejumlah saham yang mengalami penurunan terdalam alias top loser:
- PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) anjlok 11,27 ke Rp181
- PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) ambruk 9,72 persen ke Rp650
- PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) melemah 7,84 persen ke Rp940
Sedangkan saham yang mengalami kenaikan tertinggi atau top gainer diantaranya:
- PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) menguat 34,88 persen ke Rp232
- PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) naik 25 persen ke Rp200
- PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) menguat 25 persen ke Rp580
Penyebab Ambruk


Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan melemahnya rupiah ini karena sentimen negatif pelaku pasar terhadap Indonesia di kuartal II-2026.
Sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia bulan Mei defisit, inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI,”
ujar Ibrahim dalam analisis hariannya.
Selain itu, pelemahan juga didorong oleh data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global yang menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026.
Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025,”
tuturnya.
Dengan demikian Ibrahim memperkirakan, rupiah akan bergerak melemah di rentang Rp17.990-Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026.























