Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Brent Merangkak ke US$99,44 per Barel

Kondisi ini meningkatkan risiko harga minyak melonjak di atas US$120 per barel, seiring peningkatan serangan terhadap kapal pengangkut minyak.

Ilustrasi kenaikan harga minyak dunia.
Ilustrasi kenaikan harga minyak dunia. (Dibuat oleh AI)

Harga minyak naik pada perdagangan Rabu, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi itu memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi di Timur Tengah.

Dilansir dari CNBC pada Rabu, 9 September 2026 harga minyak mentah Brent naik 1,55 persen menjadi US$99,44 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman Oktober melonjak 1,75 persen menjadi US$94,66 per barel. 

AS Serang Kapal Iran

Militer AS menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran pada hari Selasa, sebagai aksi balasan atas upaya serangan terhadap kapal perang AS. Menurut Komando Pusat AS (Centcom), kapal perang AS berhasil menghindari serangan Iran dan tidak ada personel AS yang terluka.

Iklan

Meningkatnya ketegangan konflik AS dan Iran kini telah memasuki bulan ketujuh. Co-Head of Global Commodities Research Goldman, Sachs Daan Struyven, mengatakan bahwa kondisi ini meningkatkan risiko harga minyak melonjak di atas US$120 per barel, seiring dengan peningkatan serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak.

“Hal itu tentu saja mungkin terjadi,”

kata Struyven kepada program Squawk Box Asia di CNBC, ketika ditanya apakah harga minyak bisa mencapai US$120 per barel. 

Skenario dasar Goldman tetap memperkirakan ekspor minyak dari Teluk Persia akan pulih secara bertahap seiring para produsen beradaptasi dengan gangguan tersebut, termasuk melalui rute pengiriman alternatif dan pada akhirnya penambahan kapasitas pipa.

Namun, menurut Struyven, ketegangan yang terjadi belakangan ini telah meningkatkan kemungkinan terjadinya skenario yang lebih bullish, yakni ekspor gagal pulih dalam beberapa bulan mendatang.

“Perkembangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa skenario kenaikan harga alternatif tersebut, ekspor benar-benar stagnan selama beberapa bulan ke depan dan harga Brent menembus US$120, memiliki probabilitas yang jelas meningkat. Hal ini terjadi karena kami melihat intensifikasi dan perluasan serangan terhadap kapal-kapal,”

ujar Struyven.

Aksi militer antara AS dan Iran sempat terhenti selama sekitar satu bulan, dengan Washington beralih memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Namun, serangan kembali dilancarkan menjelang akhir bulan lalu.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.