Kontrovesi mengenai keaslian ijazah mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) masih belum usai dan terus bergulir bagai bola panas.
Pegiat media sosial yang juga peneliti sekaligus dokter, Tifauzia Tyassuma, mengungkapkan sejak 2022 sampai 2025 pihaknya telah melakukan pengujian dan setidaknya ada delapan versi ijazah Joko Widodo.
Jadi ada versi yang dinyatakan oleh badan resmi dan ada yang dinyatakan oleh versi Bareskrim,”
ujar dr Tifa kepada owrite baru-baru ini.
Dokter Tifa menjelaskan, setidaknya ada lima versi yang dikeluarkan oleh badan resmi, yaitu Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Oktober 2022,
Itu titik awal saya melakukan penelitian dengan ijazah. Dikeluarkan secara resmi dan formal oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM namanya Dr Sigit Sunarta. Artinya karena ini dikeluarkan oleh badan notoritatif, ya kita anggap ini versi resmi. Kebenarannya kan kita sudah yakinkan, di buku Joko Widodo bahwa keasliannya itu hanya 0,01 persen. Kepalsuanya 99,9 persen,”
jelas dr Tifa.
Selain itu, ada versi dari Bareskrim yang dikeluarkan pada 22 Mei 2025. Bentuknya adalah slide presentasi, fotokopi sebuah ijazah. Kemudian ada versi ketiga, yang yang dikeluarkan oleh KPUD Solo. Kemudian versi yang keempat, dikeluarkan oleh KPUD Jakarta. Versi yang kelima, dikeluarkan oleh KPU Pusat.
Satu lagi yang kemudian muncul di hampir tengah malam ketika kami mengikuti gelar perkara khusus Polda, 15 Desember 2022, muncul sesaat ditampilkan sekitar antara 5-10 menit. Tidak cukup bagi kami untuk memberikan komentar, apalagi melakukan pendalaman penelitian terhadap spesimen yang disebut sebagai ijazah itu. Jadi saya sebut sebagai 5 versi ya,”
jelasnya.
Nah, dari 5 versi ini beda-beda. Mata peneliti dengan mata orang awam kan beda. Makanya saya bilang, semakin kita mengeluarkan clue, semakin tambah banyak lagi versi ijazah yang makin berbeda,”
Lebih lanjut dr Tifa menambahkan, kemungkinan dari delapan versi itu salah satu, atau salah tiganya palsu, atau bahkan versi palsu semua. Sebab yang menjadi patokan adalah penelitian.
Kami kan melakukan penelitian, sudah kami publikasi dalam bentuk buku. Dan sementara ini masih on going kita akan lakukan publikasi secara ilmiah melalui jurnal Internasional maupun nasional. Kenapa waktu itu kami bertiga itu memutuskan sudah kita publish aja melalui buku dulu? Karena buku lebih cepat,”
jelasnya.
Lewat penerbitan bulu tersebut, juga sekaligus menjadi koreksi untuk pihak Jokowi bahwa penelitian tersebut sudah dilakukan sejak lama. Penelitian, sambungnya, dilakukan tahun-tahun. Dokter Tifa melakukan melakukan penelitian secara pribadi sejak tahun 2022. Sementara Roy Suryo sudah melakukan observasi sejak 2017.
Jadi kita bukukan saja, karena jurnal membutuhkan waktu lama. Yang penting adalah masyarakat bisa membaca, bisa memahami, bisa mengetahui hasil penelitian kita,”
tandasnya.



