Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) mendesak Majelis Hakim Pengadilan Militer II-08 Jakarta mencabut surat dakwaan terhadap empat terdakwa dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Mereka menilai tidak ada keadilan yang didapatkan korban selama proses sidang di pengadilan militer. Penanganan kasus terkesan tak serius.
“Berdasarkan berbagai fenomena ini dan konsisten dengan sikap Andrie Yunus sejak awal, maka kami bersama dengan Andrie Yunus menolak tegas proses persidangan di Pengadilan Militer II-08 Jakarta,”
kata Airlangga Julio, seorang perwakilan TAUD, di pengadilan, Senin, 11 Mei 2026.
“Kami meminta cabut saja dakwaan, hentikan perkara, dan segera usut dengan tuntas karena ada dugaan pelaku 16 orang atau bahkan lebih, dan adili perkara ini dalam peradilan sipil,”
tambah dia.
Persidangan militer tidak memandang Andrie sebagai korban dari nyiraman air keras. Bahkan hakim mengultimatum Andrie untuk hadir ke persidangan sebagai saksi dan memberikan keterangan. Julio meminta kasus ini untuk diadili ke peradilan sipil, sekalipun melibatkan prajurit TNI.






