Di era yang serba cepat seperti sekarang ini, kamu mungkin sering mendengar istilah low maintenance friendship. Konsep pertemanan yang tidak menuntut komunikasi intens setiap hari, tapi tidak ada rasa canggung kalau ketemu atau kumpul bareng lagi.
Banyak orang menganggap model pertemanan seperti ini adalah solusi yang ideal. Apalagi saat ini kita dalam fase yang sangat sibuk, entah sibuk denga pekerjaan, keluarga, hingga berbagai tanggung jawab pribadi.
Namun, banyak yang bertanya-tanya, low maintenance friendship beneran sehat, atau justru alasan untuk mengabaikan teman? Untuk itu, kamu perlu paham dulu apa arti dari low maintenance friendship.
Apa Itu Low Maintenance Friendship?
Secara sederhana, low maintenance friendship adalah hubungan pertemanan yang tidak bergantung pada frekuensi komunikasi. Dua orang bisa saja tidak saling menghubungi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tetapi ketika bertemu kembali hubungan mereka tetap terasa hangat seperti tidak pernah berpisah.
Biasanya, mereka tidak merasa terbebani jika pesan tidak langsung dibalas atau jika jadwal bertemu harus ditunda. Karena ada rasa saling percaya bahwa hubungan tersebut tetap ada meski tidak berhubungan secara intens.
Fenomena ini semakin umum terjadi seiring bertambahnya usia. Ketika memasuki dunia kerja, membangun keluarga, atau tinggal di kota yang berbeda, waktu untuk bersosialisasi menjadi semakin terbatas.
Mengapa Low Maintenance Friendship Populer?
Dengan adanya media sosial orang-orang merasa dirinya tetap terhubung satu sama lain. Namun Ironisnya, koneksi yang terus-menerus ini tidak selalu menghasilkan kedekatan yang lebih dalam.
Sehingga banyak yang mengalami kelelahan sosial karena terlalu banyak interaksi digital. Notifikasi yang muncul tiada henti, grup wa yang aktif sepanjang hari, hingga tuntutan untuk selalu online yang membuat sebagian orang lebih memilih membangun hubungan yang lebih santai dan tidak menuntut.
Di sisi lain, pertemanan yang terlalu “high maintenance” juga dapat menguras energi. Teman yang selalu menuntut perhatian, ingin selalu diutamakan, atau sering bergantung secara emosional bisa membuat seseorang merasa terbebani.
Karena itu, low maintenance friendship sering dipandang sebagai bentuk hubungan yang lebih dewasa. Karena kedua pihak memahami keterbatasan waktu dan energi masing-masing tanpa harus mempertanyakan kualitas hubungan mereka.
Benarkah Hanya Alibi Malas Berinteraksi?
Meski terdengar ideal, konsep ini tidak selalu berjalan sehat. Dalam beberapa kasus, label low maintenance justru digunakan sebagai alibi untuk malas menjaga hubungan pertemanan.
Sebagian orang menganggap persahabatan akan tetap bertahan hanya karena mereka punya banyak kenangan bersama. Akibatnya, mereka jarang menghubungi teman, tidak hadir saat dibutuhkan, dan menganggap hubungan akan tetap baik-baik saja tanpa mengeluarkan effort untuk menjaga hubungan tersebut.
Padahal, setiap hubungan membutuhkan investasi emosional. Persahabatan yang sehat tetap memerlukan perhatian, komunikasi, dan usaha meski dalam bentuk sederhana.
Mengirim pesan singkat untuk menanyakan kabar, mengingat ulang tahun, memberikan dukungan saat teman sedang menghadapi masalah, atau sekadar berbagi cerita ringan bisa menjadi bentuk untu menjaga hubungan agar langgeng.
Tanpa adanya upaya tersebut, jarak yang awalnya terasa wajar bisa berubah menjadi keterasingan yang sulit diperbaiki.
Ciri-Ciri Low Maintenance Friendship yang Sehat
Pertemanan minim kontak dapat dikatakan sehat jika kedua pihak memiliki ekspektasi yang sama. Tidak ada perasaan diabaikan, tidak ada pihak yang terus-menerus berusaha sendirian, dan keduanya tetap hadir saat benar-benar dibutuhkan.
Hubungan seperti ini biasanya ditandai dengan adanya rasa saling percaya, komunikasi yang jujur, serta kemampuan untuk memahami kesibukan masing-masing tanpa menganggapnya sebagai penolakan pribadi.
Selain itu, low maintenance yang sehat adalah tetap berusaha menunjukkan perhatian meskipun tidak setiap hari. Mereka mungkin tidak sering bertukar pesan, tetapi tetap hadir dalam momen penting kehidupan satu sama lain.
Kapan Low Maintenance Friendship Menjadi Tidak Sehat?
Masalah muncul ketika hubungan hanya berjalan satu arah. Jika salah satu pihak selalu menghubungi terlebih dahulu, selalu berusaha menjaga komunikasi, sementara pihak lain terus menghilang tanpa penjelasan, maka hubungan akan berkembang menjadi toxic relationship.
Begitu pula ketika seseorang merasa tidak pernah didengarkan, tidak mendapat dukungan saat membutuhkan bantuan, atau hanya dicari ketika ada kepentingan tertentu.
Dalam kondisi seperti itu, istilah low maintenance friendship bisa menjadi topeng bagi hubungan yang sebenarnya sudah renggang atau bahkan tidak lagi sehat.
Merujuk pada Verywellmind, persahabatan yang sehat merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap kebahagiaan, kesehatan mental, hingga kualitas seseorang.
Karena itu, hubungan pertemanan tidak bisa sepenuhnya dibiarkan berjalan tanpa usaha. Meskipun tidak perlu berkomunikasi setiap hari, menjaga koneksi tetap penting agar hubungan tidak perlahan menghilang.
Kuncinya bukan terletak pada seberapa sering bertemu atau mengobrol, melainkan pada kualitas perhatian yang diberikan. Persahabatan yang kuat lahir dari rasa saling peduli, kehadiran saat dibutuhkan, serta komunikasi yang terbuka mengenai kebutuhan dan harapan masing-masing.
Dan akhirnya, low maintenance friendship bisa menjadi bentuk persahabatan yang sehat dan dewasa selama kedua pihak tetap berkomitmen untuk menjaga hubungan tersebut. Sebab, persahabatan yang baik bukanlah hubungan yang tidak membutuhkan usaha sama sekali, melainkan hubungan yang membuat usaha itu terasa ringan dan tulus.



