Kasus penyekapan dan penganiayaan yang menimpa seorang perempuan di Kabupaten Bandung terus menyita perhatian publik.
Di balik proses hukum yang sedang berjalan, muncul kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan korban yang disebut mengalami dampak serius baik secara fisik maupun psikologis.
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mengatakan, perhatian publik tidak boleh berhenti pada upaya penindakan terhadap pelaku.
Kita semua tentu mengecam tindakan kekerasan yang diduga dialami korban. Perhatian kita tidak boleh berhenti pada proses hukum. Memastikan korban mendapatkan layanan kesehatan dan rehabilitasi yang optimal,”
kata Netty dalam keterangannya yang diterima Owrite, Selasa, 23 Juni 2026.
Berdasarkan informasi yang beredar, korban disebut mengalami gangguan mobilitas, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, hingga berbagai luka fisik yang memerlukan penanganan intensif.
Korban diduga mengalami kekerasan dan isolasi dalam waktu yang panjang. Dampaknya bukan hanya luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam. Karena itu, layanan kesehatan jiwa harus menjadi bagian utama dari proses pemulihan,”
ucapnya.
Politikus PKS itu meminta seluruh fasilitas kesehatan yang menangani korban memastikan tidak ada hambatan dalam proses rehabilitasi, baik terkait layanan medis maupun pembiayaan.
Kesehatan mental korban harus mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Pendampingan tidak boleh berhenti setelah korban keluar dari rumah sakit, tetapi harus berlanjut sampai benar-benar pulih,”
jelasnya.
Netty menilai, kasus yang baru terungkap setelah berlangsung bertahun-tahun ini menjadi alarm bagi negara untuk memperkuat sistem perlindungan terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan yang hidup dalam kondisi terisolasi.
Kasus yang baru terungkap setelah bertahun-tahun ini menunjukkan pentingnya jejaring perlindungan sosial dan layanan kesehatan yang lebih responsif terhadap tanda-tanda kekerasan. Jangan sampai korban harus menanggung penderitaan dalam waktu lama sebelum mendapatkan pertolongan,”
ungkapnya.
Netty berharap seluruh pihak, mulai dari aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, hingga pemerintah daerah, dapat mengawal proses pemulihan korban secara serius.
Korban membutuhkan keadilan, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk pulih dan melanjutkan hidupnya. Negara harus hadir mengawal kedua hal tersebut secara bersamaan,”
harapnya.











![Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].](https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/06/Mahasiswa-temui-Wapres-Gibran-di-Istana-Wapres_Owrite-300x169.webp)










