Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi mengatakan, rangkaian peristiwa yang terjadi belakangan, mulai dari penanganan perkara dugaan korupsi yang melibatkan eks Jampidsus Febrie Adriansyah, maraknya aksi main hakim sendiri, hingga memanasnya ruang publik, menunjukkan semakin kuatnya krisis rasa keadilan di tengah masyarakat.
Jaksa Agung jadi tersangka korupsi, kritisisme dilabel ‘Londo Ireng’, tawuran warga memakan nyawa, pejabat tinggi yang masih waras memilih mundur,”
kata Islah kepada Owrite, Senin, 27 Juli 2026.
Islah menilai, publik disuguhi berbagai peristiwa yang memunculkan pertanyaan mengenai arah penegakan hukum dan cara pemerintah merespons kritik.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara apabila tidak dijawab dengan langkah yang meyakinkan.
Ia juga menyoroti proses penahanan eks Jampidsus Febrie Adriansyah yang menurutnya memunculkan perdebatan di ruang publik karena dinilai berbeda dengan perlakuan terhadap tersangka lain dalam kasus korupsi.
The injustice pics of the year: Pejabat tinggi Kejaksaan tersangka korupsi, tanpa borgol dan rompi, tapi masih ngebacot dikriminalisasi,”
ucapnya.
Selain itu, Islah menyinggung berbagai tragedi sosial yang masih terjadi, termasuk aksi main hakim sendiri yang menewaskan warga yang dituduh melakukan pencurian.
Buat Islah, peristiwa semacam itu memperlihatkan bahwa persoalan penegakan hukum dan perlindungan masyarakat masih menjadi pekerjaan besar negara.
Dan seorang anak yang meratapi bapaknya, dikeroyok hingga meninggal, hanya karena dituduh mencuri seekor ayam di Bali. Bangsa apa kita ini?”
tegasnya.
Ia berpandangan, berbagai persoalan tersebut tidak boleh dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Sebaliknya, negara perlu menunjukkan komitmen yang kuat dalam memperbaiki penegakan hukum, menjaga keamanan masyarakat, dan membangun komunikasi publik yang mampu memulihkan kepercayaan warga.
Berita-berita sejenis ini yang akan terus kita baca bertahun-tahun ke depan jika kita menjadikan ketidaknyamanan sebagai zona pura-pura nyaman,”
tutupnya.






















