Kalau disuruh milih antara main gasing atau mabar game online, kemungkinan besar banyak yang bakal pilih opsi kedua. Nggak heran sih, sekarang hampir semua hiburan sudah ada di genggaman tangan.
Padahal, jauh sebelum ada internet, smartphone, bahkan listrik, ada satu permainan yang pernah jadi hiburan favorit di belahan dunia, yaitu gasing.
Walaupun bentuknya sederhana, tapi jangan salah. Gasing atau ada juga yang menyebutnya dengan gangsing ternyata udah ada sejak 3.500 tahun sebelum masehi lho.
Dilansir dari Bruce Charles Designs, dibalik bentuknya mungil, gasing punya cerita yang bisa bikin kamu melongo.
Eksis Sejak Zaman Kuno
Mengutip dari Bruce Charles Designs para arkeolog pernah menemukan gasing dari tanah liat di wilayah Mesopotamia dan Mesir Kuno.
Penemuan itu sekaligus jadi tanda kalau manusia sudah memainkan benda yang berputar ini sejak ribuan tahun lalu.
Yang bikin makin speechless, dulu gasing bukan cuma dipakai buat main. Di beberapa peradaban, gasing diyakini pernah digunakan dalam ritual, permainan keberuntungan, sampai pertunjukan yang menunjukkan keahlian para pemainnya.
Lama-kelamaan, gasing “jalan-jalan” ke berbagai negara. Di Yunani Kuno gasing jadi ajang adu skill, di Romawi benda ini dipercaya untuk digunakan sebagai permainan keberuntungan, sedangkan di China dan Jepang gangsing malah berkembang jadi pertunjukan yang penuh trik dan atraksi.
Terus, Gasing di Indonesia Datangnya dari Mana?
Nah, bagian ini yang masih jadi misteri. Dilansir dari Badan Kebudayaan Nasional, belum ada sumber yang benar-benar tahu dari mana asal gasing di Indonesia.
Ada yang bilang permainan ini dibawa dari China lalu menyebar ke Asia Tenggara. Ada juga yang percaya gasing lahir dari budaya Melayu dan sudah dimainkan sejak masa Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-12.
Versi lain malah nggak kalah unik. Konon, cikal bakal gasing berasal dari telur yang diputar. Siapa yang putarannya paling awet, dialah pemenangnya.
Baru setelah itu, telur diganti dengan kayu yang dibentuk bulat dan diberi ujung lancip supaya putarannya makin stabil.
Kenapa Namanya Gangsing?
Kalau kamu pernah dengar istilah gangsing, ternyata ada artinya juga. Menurut Badan Kebudayaan Nasional kata gangsing berasal dari dua suku kata, yaitu gang yang berarti tempat dan sing yang berarti suara.
Jadi, gangsing bisa dimaknai sebagai permainan yang dimainkan di tempat terbuka sambil menghasilkan bunyi saat berputar.
Uniknya lagi, setiap daerah punya nama sendiri-sendiri. Ada yang menyebutnya gasing, panggal, begasing, maggasing, pukang, apiong, sampai kekehan. Beda nama, tapi cara mainnya tetap sama kok.
Kelihatannya Gampang, Padahal Butuh Feeling
Kalau cuma lihat orang main gasing, mungkin kamu bakal mikir, “Ah, tinggal lempar doang.”
Eits, jangan salah. Biar putarannya stabil dan tahan lama, ada teknik yang harus dikuasai. Talinya harus dililit dengan pas, lemparannya juga nggak boleh asal.
Biasanya, pemenang dari permainan ini adalah gasing yang sanggup berputar paling lama. Jadi selain butuh tenaga, permainan ini juga mengandalkan fokus dan ketepatan.
Meski sudah kalah populer dari game online, gasing ternyata masih bertahan lewat berbagai festival budaya.
Merujuk pada Badan Kebudayaan Nasional, lomba gasing masih rutin digelar di Festival Danau Sentarum di Kalimantan Barat. Di Desa Gobleg, Bali Utara gangsing juga sudah jadi tradisi yang mempererat hubungan antar warga.
Sementara di Bengkulu, permainan ini hadir menjelang 1 Muharam. Sedangkan di Demak, gasing menjadi bagian dari tradisi masyarakat untuk memohon turunnya hujan.
Jadi, lain kali kalau kamu melihat gasing berputar, jangan cuma lihat sebagai mainan jadul. Si kecil yang muter-muter ini ternyata sudah menemani manusia selama ribuan tahun dan masih terus bertahan sebagai bagian dari warisan budaya.





















