Indonesia memiliki beragam makanan tradisional yang menjadi identitas setiap daerah. Belakangan, kuliner khas Nusantara semakin banyak dikenal, baik melalui media sosial, promosi pariwisata, maupun berbagai acara budaya.
Salah satu hidangan yang kerap menarik perhatian adalah papeda, makanan khas Papua yang memiliki tekstur unik dan telah lama menjadi makanan pokok masyarakat setempat. Untuk lebih jelasknya, dilansir dari laman Pemerintah Kota Jayapura (03 Oktober 2021), berikut penjelasan tentang papeda.
Papeda, Makanan Pokok Khas Papua
Hidangan berbahan dasar sagu ini merupakan makanan pokok masyarakat Papua dan sebagian wilayah Maluku yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam Bahasa Inanwatan dikenal sebagai dao, memiliki adalah bagian dari tradisi masyarakat adat di Sentani dan Arso, serta Manokwari.
Memiliki tekstur kental menyerupai gel, papeda umumnya disajikan bersama ikan kuah kuning atau lauk khas lainnya. Selain menjadi sumber karbohidrat, makanan ini juga dikenal rendah gula dan lemak, serta mengandung serat yang cukup tinggi.
Cara Membuat Papeda
Prosesnya dimulai dengan mencampurkan aci sagu dengan sedikit air dingin hingga mudah diaduk. Setelah itu, adonan disiram air mendidih sambil terus diaduk searah hingga warnanya berubah dari putih menjadi bening.
Meski terlihat sederhana, membuat papeda membutuhkan ketelitian. Takaran air dan suhu yang digunakan harus tepat agar teksturnya tidak terlalu cair maupun terlalu keras. Inilah alasan mengapa tidak semua orang dapat membuat papeda dengan hasil yang sempurna.
Ciri Papeda yang Matang Sempurna
Papeda yang sudah matang memiliki tampilan transparan dengan tekstur kenyal dan elastis. Dalam tradisi masyarakat Papua, papeda yang baik disebut berbentuk batali, yaitu memanjang seperti tali dan tidak mudah putus ketika diangkat.
Sebaliknya, papeda yang mudah terputus biasanya disebabkan oleh proses pengolahan sagu yang terlalu bersih sehingga serat halusnya ikut terbuang. Padahal, serat tersebut berperan dalam menghasilkan tekstur khas papeda.
Penyajian Papeda yang Khas
Papeda umumnya disajikan menggunakan alat khusus berupa sumpit kayu yang disebut gata-gata. Adonan papeda diputar dengan cepat agar tidak terputus saat dipindahkan ke piring saji.
Hidangan ini biasanya disantap bersama ikan kuah kuning yang kaya rempah. Selain itu, papeda juga dapat dipadukan dengan berbagai lauk lain, seperti daging, sayur ganemo yang terbuat dari daun melinjo muda, kelapa, maupun hidangan khas Papua lainnya.
Papeda dalam Tradisi Masyarakat Papua
Papeda dengan ikan kuah kuning sering dihidangkan dalam upacara adat, seperti Upacara Watani Kame di Raja Ampat yang menandai berakhirnya siklus kematian seseorang.
Sementara itu, di Inanwatan, Papua, papeda menjadi hidangan yang disajikan dalam upacara kelahiran anak pertama. Hal ini menunjukkan bahwa papeda tidak hanya memiliki nilai gizi, tetapi juga nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.



















