Pendakian gunung dengan sistem tektok semakin diminati para pencinta alam. Konsep ini memungkinkan pendaki berangkat dari basecamp, mencapai puncak, kemudian kembali turun ke titik awal pada hari yang sama tanpa bermalam di gunung.
Karena dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam atau one day trip, tektok jadi pilihan bagi pendaki yang memiliki waktu terbatas. Dengan konsep itu, pendaki bisa menikmati pengalaman mendaki tanpa membawa perlengkapan berkemah.
Meski terlihat lebih praktis, tektok tetap membutuhkan kondisi fisik yang prima, manajemen waktu yang baik, serta perlengkapan keselamatan yang memadai.
Dengan seluruh perjalanan dilakukan dalam satu hari, maka risiko kelelahan tetap harus diantisipasi.
Apa itu tektok?
Mengutip informasi yang dibagikan akun Instagram @mountainlocal.id, tektok merupakan aktivitas mendaki dari basecamp menuju puncak. Kemudian, langsung kembali ke basecamp pada hari yang sama.
Jalur yang dilalui sama dengan pendakian biasa. Bedanya, pendaki tak bermalam sehingga harus mampu mengatur kecepatan perjalanan agar dapat turun sebelum malam hari atau sesuai batas waktu yang ditetapkan pengelola kawasan pendakian.
Selain menguji daya tahan fisik, tektok juga menuntut kesiapan mental karena pendaki harus menyelesaikan seluruh rute dalam satu kali perjalanan.
Walaupun tidak menginap, pendaki tetap harus bawa perlengkapan dasar demi menunjang keselamatan selama berada di gunung. Perlengpan itu antara lain tas berkapasitas sekitar 15–30 liter; air minum minimal 2 liter; jaket atau pakaian hangat; headlamp beserta baterai cadangan.
Selain itu, perlu trekking pole (opsional), makanan tinggi energi seperti cokelat, energy bar, kacang-kacangan, atau roti; kotak P3K dan obat-obatan pribadi. Lalu, kantong sampah untuk membawa turun seluruh sampah yang dihasilkan selama pendakian.
Tips aman melakukan tektok
Agar pendakian berlangsung aman dan nyaman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum berangkat.
Pendaki disarankan memulai perjalanan pada dini hari, sekitar pukul 01.00 hingga 03.00. Dengan perjalanan itu agar memiliki waktu yang cukup untuk mencapai puncak dan kembali turun sebelum malam.
Selain itu, pastikan tubuh dalam kondisi sehat, sudah beristirahat cukup, serta memenuhi kebutuhan cairan dan makanan selama perjalanan agar stamina tetap terjaga.
Pun, sebaiknya mengenakan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca dan jangan lupa membawa jaket hangat karena suhu di gunung dapat berubah drastis.
Headlamp juga harus dipastikan berfungsi dengan baik untuk mengantisipasi perjalanan saat kondisi masih gelap. Headlamp juga penting jika waktu turun lebih lama dari perkiraan.
Sebelum mendaki sebaiknya pelajari jalur, lokasi pos pendakian, serta titik-titik penting agar perjalanan lebih aman.
Jangan Abaikan Faktor Cuaca
Selain kesiapan fisik dan perlengkapan, pendaki juga dianjurkan memeriksa prakiraan cuaca sebelum memulai perjalanan. Pendakian sebaiknya ditunda bila ada perkira cuaca hujan lebat, angin kencang, atau cuaca ekstrem yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Pendaki juga disarankan tidak melakukan tektok seorang diri. Mendaki bersama teman akan memudahkan proses evakuasi apabila terjadi keadaan darurat.
Tak kalah penting, beri tahu keluarga atau kerabat mengenai rencana pendakian. Selain itu, estimasi waktu kembali sebagai langkah antisipasi apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.
Apabila tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau kondisi cuaca memburuk, sebaiknya segera beristirahat atau turun kembali. Memaksakan diri untuk mencapai puncak justru dikhawatirkan bisa meningkatkan risiko kecelakaan di jalur pendakian.





















