Epidemiolog sekaligus ahli kesehatan dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH menyebut anak yang mengalami pubertas dini rentan jadi korban pelecehan atau eksploitasi seksual.
Hal ini bisa terjadi karena pubertas dini akan membawa perubahan fisik yang membuat anak terlihat lebih dewasa. Sebab perubahan ini terjadi terlalu dini, secara mental dan emosional bisa saja mereka belum siap.
Anak dengan tubuh yang tampak lebih dewasa di usia sangat muda meningkat kerentanannya terhadap pelecehan atau eksploitasi seksual. Karena orang dewasa di sekitarnya bisa salah menilai usia mental dan kesiapannya berdasarkan tampilan fisik semata,”
ujar Dicky kepada Owrite pada 1 September 2026.
Menurut Dicky, aspek perlindungan anak menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika membahas pubertas dini.
Sebab, kematangan fisik yang datang lebih cepat tidak berarti anak memiliki kematangan mental yang sama.
Secara klinis, anak perempuan disebut mengalami pubertas dini atau precocious puberty apabila tanda-tanda seksual sekunder, seperti pertumbuhan payudara dan rambut kemaluan, muncul sebelum usia delapan tahun.
Mengalami Perubahan Tubuh
Selain persoalan perlindungan anak, pubertas dini juga dapat berdampak pada kondisi psikososial. Anak yang mengalami perubahan tubuh seperti orang dewasa pada usia sangat muda dapat merasa bingung, takut, cemas, berbeda dari teman sebaya, hingga mengalami bullying dan penurunan rasa percaya diri.
Dari sisi biologis, pubertas yang datang terlalu cepat juga dapat membuat lempeng pertumbuhan tulang menutup lebih awal.
Kondisi ini membuat anak berpotensi memiliki tinggi badan dewasa yang lebih pendek, meski pada awal pubertas pertumbuhannya bisa berlangsung lebih cepat.
Dicky menegaskan pubertas dini bukan tanda bahwa anak mengalami tumbuh kembang yang lebih baik.
Menurutnya, kondisi tersebut justru perlu dievaluasi secara medis agar penyebabnya dapat diketahui dan anak memperoleh penanganan yang sesuai.



















