Pernah nggak sih kamu mikir, “Kok orang yang dulu nge-bully gue hidupnya masih fine-fine aja ya?” Temannya masih banyak, sering nongkrong, eksis terus di medsos, bahkan hidupnya kelihatan happy-happy aja.
Sementara kamu yang pernah jadi korbannya? Masih teringat omongan mereka sampai sekarang.
Yang lebih bikin nyesek, buat si pem-bully mungkin kejadian itu seperti angin lalu aja. Tapi, buat korban, satu ejekan yang menurut mereka cuma ‘becanda’ bisa kepikiran samapai bertahun-tahun.
Pertanyaan kayak gini ternyata juga pernah dirasakan kreator TikTok @lizaedelweish. Liza yang mengaku pernah menjadi korban bullying mencoba membahas kenapa pem-bully justru sering terlihat lebih populer, punya banyak teman, bahkan seolah hidupnya jauh lebih enak daripada korban.
Sebagai korban pem-bully, let me explain this with sains and spiritual,”
tulis Liza dikutip dari akun TikToknya, Jumat, 4 September 2026.
Menurut Liza, ada alasan psikologis di balik fenomena tersebut, yakni manusia pada dasarnya cukup responsif terhadap sistem hierarki sosial.
Biasanya banyak yang memilih untuk mendekati orang yang terlihat punya power, berani, vokal, dan dominan. Dalam sebuah kelompok, orang seperti ini biasanya lebih gampang dapat perhatian.
Nah, sifat seperti ini bisa bikin seseorang terlihat punya aura leader. Meskipun, cara yang digunakan sebenarnya nggak selalu baik.
Makanya, seorang pembully bisa saja terlihat lebih populer dibandingkan korbannya. Karena mereka berani ngomong, berani bertindak, dan nggak takut mengambil posisi paling depan meskipun hal yang ia lakukan sebenarnya salah.
Selain itu, perlu diingat kalau orang-orang yang ada di sekitarnya juga belum tentu benar-benar suka dengan dia.
Ada banyak alasan mengapa banyak orang memilih berteman dengan para pem-bully seperti karena ingin ikut popular. Lalu, ingin punya posisi aman dalam kelompok. Bahkan, ada juga yang takut kalau sampai menjauh dirinyalah yang malah ikut jadi target bullying.
Jadi, punya banyak teman belum tentu berarti teman-temannya itu benar-benar tulus.
Kelihatan Lebih Menderita?
Ini bagian yang mungkin paling relate buat kamu yang pernah di-bully. Coba bayangkan, pelaku sudah melanjutkan hidup seperti biasa. Sementara, korban masih berusaha berdamai dengan pengalaman yang pernah terjadi.
Pelaku mungkin sudah lupa pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Tapi, korban bisa saja masih ingat jelas kalimatnya, tempat kejadiannya, bahkan ekspresi orang-orang yang ada di sana.
Menurut Liza, hal inilah yang membuat korban seolah membawa beban dari masa lalu. Sementara, pelaku bisa terus melangkah karena tidak terlalu memikirkan dampak perbuatannya.
Dari sisi spiritual, Liza menilai hal itu bukan berarti semesta sedang berpihak kepada orang jahat. Justru, jangan sampai kamu melihat kehidupan pelaku yang sekarang lalu berpikir,
Berarti dia menang dan gue kalah,”
ujar Liza.
Sebab, apa yang kelihatan di luar juga bukan keseluruhan cerita seseorang. Apalagi kalau yang kamu lihat cuma dari media sosial.
Kalau kamu masih berharap suatu hari pem-bully datang dan bilang.
Gue minta maaf ya, dulu gue salah,”
tutur Liza.
Liza menyarankan agar korban sebaiknya stop mindset itu. Bukan karena mereka nggak salah. Tapi, karena proses untuk sembuh seharusnya nggak bergantung pada kesadaran mereka.
Liza menyarankan korban agar tidak lagi memberikan terlalu banyak ruang kepada orang-orang yang pernah menyakitinya. Daripada energi habis buat mikirin mereka, lebih baik digunakan untuk membangun diri sendiri.
Menurut dia, cacian, ejekan, dan perkataan buruk yang pernah diterima sebaiknya dijadikan motivasi untuk berkembang. Bukan buat balas dendam, bukan juga supaya si pembully merasa kalah.
Kamu di-bully bukan karena kurangnya dirimu. Tapi, karena ketidakmampuan mereka melihat kamu mampu,”
tulis Liza.

























