Pernah nggak sih kamu sadar, kalau makin ke sini kok makin jarang (VC) atau telepon sama orang tua yang ada di kampung halaman?
Padahal selalu pegang handphone, kuota juga melimpah. Namun, hati rasanya berat aja gitu kalau harus pencet tombol call ke orang di kampung.
Jujur deh, ini tuh bukan karena kamu benci sama mereka. Tapi kamu cuma ngerasa lebih nyaman aja gitu kalau ada jarak ini.
Tapi di satu sisi, kamu pasti pernah kena guilt trip kayak perang batin gitu sampai mikir, “Jangan-jangan gue anak berhati dingin dan nggak tahu diri, ya?”
Eits, tunggu dulu! Kalau dilihat dari kacamata psikologi, kebiasaan ini nggak otomatis bikin kamu jadi anak berhati dingin kok.
Fenomena ini bisa saja berkaitan dengan avoidant attachment style alias gaya keterikatan menghindar.
Avoidant Attachment Style?
Mengutip dari Cleveland Clinic, avoidant attachment merupakan pola kelekatan ketika seseorang cenderung sangat mengutamakan kemandirian dan kurang nyaman dengan kedekatan emosional.
Tipe seperti ini biasa orangnya super mandiri, serba bisa sendiri, susah minta tolong, dan lebih memilih menyelesaikan masalah tanpa merepotkan orang lain.
Kalau dikaitkan dengan hubungan keluarga, bentuknya bisa berupa jarang menelepon, nggak terlalu suka cerita masalah pribadi, dan merasa lebih nyaman ketika punya jarak.
Tapi ingat, kelihatan cuek bukan berarti heartless, ya.
Menurut American Psychological Association (APA), pengalaman dan hubungan emosional sejak masa kanak-kanak dapat berperan dalam membentuk cara seseorang menjalin hubungan ketika dewasa.
Ketika sejak kecil kebutuhan emosional kurang mendapatkan respons yang konsisten, orang biasanya akan mulai belajar untuk lebih mengandalkan dirinya sendiri.
Akhirnya muncul pola pikir, “Daripada berharap ke orang lain terus kecewa, mending gue handle semuanya sendiri.”
Pola ini kemudian terbawa sampai dewasa. Ketika muncul konflik atau hubungan terasa terlalu dekat, respons pertamanya bukan selalu membicarakan masalah sampai clear, tetapi justru pull away, diam, atau mengambil jarak.
Cuma Dipendam
Orang dengan kecenderungan avoidant bisa terlihat tenang, santai, bahkan cuek bebek dan kelihatan kayak orang tanpa emosi.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa orang dengan avoidant attachment tetap bisa membutuhkan koneksi dan kasih sayang, tetapi cenderung kesulitan mengekspresikan kebutuhan emosional atau merasa nyaman bergantung kepada orang lain.
Jadi, kalau kamu jarang telepon orang tua, bukan berarti kamu nggak kangen. Bisa saja kamu cuma nggak terbiasa menunjukkan rasa kangen tanpa merasa canggung.
Beneran Anak Berhati Dingin?
Definitely no. Intensitas teleponan bukan satu-satunya ukuran untuk melihat seberapa sayang seseorang kepada orang tuanya.
Ada juga anak yang memilih daily call, ada yang cuma beberapa kali sebulan tapi langsung gercep ketika keluarganya membutuhkan.
Jadi, daripada buru-buru melabeli diri sebagai “anak durhaka” atau “berhati dingin”, coba pahami dulu alasan di balik kebiasaan tersebut.
Bisa jadi kamu memang sedang membutuhkan ruang. Atau bisa juga ada pengalaman emosional masa lalu yang membuat kedekatan terasa kurang nyaman.
Jadi, orang yang terlihat menjauh belum tentu nggak peduli. Mungkin mereka cuma sedang menggunakan cara yang dulu membuat mereka merasa aman.
Dan yang mereka butuhkan bukan penghakiman, melainkan safe space untuk perlahan belajar membangun hubungan yang lebih sehat.



















