Erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian menyusul aktivitas vulkanik pada awal September 2026 yang memicu sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah.
Meski kondisi di beberapa daerah mulai membaik, abu vulkanik masih ditemukan di sejumlah lokasi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau pun terus dipantau untuk mengantisipasi dampak lanjutan terhadap masyarakat.
Paparan abu vulkanik tak hanya berpotensi mengganggu sistem pernapasan dan aktivitas sehari-hari. Partikel abu yang menempel pada kulit, khususnya wajah, juga perlu diperhatikan karena bisa memicu iritasi apabila tidak dibersihkan dengan cara yang tepat.
Dokter sekaligus edukator skincare mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat membersihkan wajah selama masih terdapat risiko paparan abu vulkanik.
Salah satu kebiasaan yang sebaiknya dihindari adalah membersihkan wajah dengan cara menggosok kulit menggunakan kapas dan micellar water. Cara tersebut berisiko membuat partikel abu yang menempel di permukaan kulit.
Bukan Sekadar Debu
Sekilas, abu vulkanik yang menempel di wajah memang terlihat seperti debu biasa. Namun, material ini sebenarnya terdiri atas partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat kecil.
Partikel itu memiliki permukaan yang keras, kasar, dan tak beraturan sehingga bersifat abrasif. Bahkan, sebagian partikelnya berukuran sangat kecil sehingga tak selalu terlihat oleh mata.
Kondisi inilah yang membuat abu vulkanik perlu ditangani dengan hati-hati ketika menempel pada kulit. Paparan abu bisa menyebabkan kulit jadi kering, gatal, kemerahan, perih, hingga mengalami iritasi.
Risiko tersebut dapat lebih mudah terjadi pada orang dengan kulit sensitif atau skin barrier yang sedang terganggu.
Hindari Gesekan
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya produk yang digunakan, tetapi juga cara membersihkan kulit. Dalam video edukasinya, Syafik, yang dikenal sebagai Dosen Skincare di platform TikTok, menyarankan untuk menghindari penggunaan micellar water selama masa paparan abu vulkanik.
Menurut penjelasannya, penggunaan micellar water umumnya dilakukan dengan menuangkan produk ke kapas kemudian mengusapkannya ke kulit. Jika masih terdapat partikel abu vulkanik yang menempel di wajah, gesekan tersebut berpotensi membuat partikel abrasif ikut bergesekan dengan permukaan kulit.
Karena itu, prinsip utamanya adalah jangan menggosok kulit ketika masih ada abu vulkanik yang menempel. Hal ini juga sejalan dengan anjuran dermatolog yang menyebut abu vulkanik sebaiknya tidak langsung digosok atau digaruk karena sifat abrasifnya dapat meningkatkan iritasi pada kulit.
Bilas Terlebih Dahulu
Lalu, bagaimana cara membersihkan wajah setelah terpapar abu? Langkah pertama adalah membilas wajah dengan air bersih mengalir untuk membantu menghilangkan partikel abu yang menempel. Setelah itu, wajah dapat dibersihkan menggunakan gentle cleanser.
Jika membutuhkan double cleansing, penggunaan cleansing balm atau cleansing oil dapat dilakukan setelah abu dibilas terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan gentle cleanser.
Yang terpenting, hindari menggosok wajah secara berlebihan. Jangan pula menggunakan scrub, cleansing brush, atau metode pembersihan lain yang memberikan gesekan kuat pada kulit.
Setelah wajah dibersihkan, perawatan berikutnya adalah menjaga kelembapan dan skin barrier kulit. Gunakan moisturizer setelah membersihkan wajah. Pilih produk yang formulanya sesuai dengan kondisi kulit dan fokus pada menjaga kelembapan.
Intinya, selama abu vulkanik masih berpotensi menempel pada kulit, utamakan pembersihan yang lembut dan minim gesekan. Bukan hanya produk yang digunakan, tetapi cara membersihkannya juga perlu diperhatikan.
























