Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Internasional

Great Institute soal Alasan Pakistan Cocok jadi Juru Damai Konflik AS-Israel dan Iran

Direktur Geopolitik Great Institute, Teguh Santosa. (Foto: owrite.id)
Direktur Geopolitik Great Institute, Teguh Santosa. (Foto: owrite.id)

Direktur Geopolitik Great Institute Teguh Santosa, memaparkan alasan Pakistan mengambil alih peran sebagai mediator konflik Iran dan Israel-Amerika Serikat. 

Hal ini tidak lepas dari hubungan Pakistan dengan Amerika Serikat, Tiongkok, dan Iran. Ia mengutip istilah dari mantan Duta Besar Pakistan untuk menggambarkan posisi diplomatik Islamabad.

Mengapa Pakistan? Pakistan hubungannya dengan Amerika Serikat itu up and down, tapi hubungan dengan Tiongkok itu up and up,”

kata Teguh kepada Owrite.id. 

Salah satu bentuk kemesraan Pakistan dan Tiongkok ialah melalui proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) yaitu kumpulan proyek infrastruktur, energi, dan transportasi bernilai lebih dari $60 miliar US$ yang bertujuan menghubungkan wilayah barat laut Tiongkok (Xinjiang) dengan Pelabuhan Gwadar di Pakistan.

Iklan

Proyek tersebut sempat membuat hubungan Amerika Serikat dan Pakistan renggang. Kemudian, hubungan Amerika Serikat dan Pakistan mulai membaik setelah penarikan pasukan Paman Sam dari Afghanistan pada 2021. 

Kerja sama Amerika Serikat, Pakistan, dan Afghanistan dalam memburu kelompok teroris pada peristiwa Abbey Gate–serangan bom bunuh diri teroris pada 26 Agustus 2021 di luar Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan. Kolaborasi tersebut dianggap mengembalikan komunikasi antara Islamabad dan Washington. 

Sisi lain, Pakistan mempunyai modal kuat untuk berhadapan dengan Iran. Kedua negara itu nyaris tak memiliki problem diplomatik yang signifikan. 

Iran dan Pakistan nyaris tidak punya masalah diplomatik. Mereka bertetangga, kemudian sama-sama dipertemukan oleh sikap mereka yang dengan Amerika Serikat tidak bagus. Akhirnya bagi Iran, Pakistanlah yang menjadi titik temu,”

terang Teguh. 

Ia menyimpulkan peran Pakistan sebagai mediator lebih realistis secara geopolitik kewilayahan. Namun, tawaran yang diajukan oleh Presiden Prabowo agar Indonesia menjadi mediator, tetap memiliki makna bagi posisi Indonesia di mata global. 

Misalnya tidak ada satupun negara teluk atau negara di Asia Barat dan Asia Selatan yang mau jadi juru damai, ada Indonesia. Itu maksudnya,” 

ucap Teguh.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal