Ketegangan kembali mengguncang Timur Tengah pada Senin, 20 Juli 2026, setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan gelombang serangan terbaru terhadap Iran. Di saat yang sama, Kuwait menyatakan telah mencegat pesawat nirawak, sementara Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang pusat komando AS di Suriah.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain juga mengumumkan sirene serangan udara telah dibunyikan dan mengimbau warga serta penduduk untuk segera menuju tempat aman terdekat.
AS Lanjutkan Serangan ke Iran
Komando Pusat AS (Centcom) pada Minggu malam, 19 Juli 2026, mengumumkan dimulainya gelombang serangan terhadap Iran untuk malam kesembilan secara berturut-turut.
Melansir dari Channel News Asia, menurut Centcom, serangan tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial dan pelaut sipil di Selat Hormuz.
Eskalasi terbaru terjadi setelah upaya awal untuk mengakhiri perang gagal mencapai kesepakatan. Kedua pihak yakni Iran – AS masih berselisih mengenai Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi pasokan minyak dunia.


Kuwait dan Bahrain Tingkatkan Kewaspadaan
Sementara itu, militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat pesawat nirawak musuh menyusul serangan dari Iran.
Staf Umum Angkatan Darat mencatat bahwa setiap ledakan yang terdengar adalah akibat dari sistem pertahanan udara yang mencegat serangan musuh,”
demikian bunyi unggahan di akun X resmi Angkatan Darat Kuwait.
Di Bahrain, pemerintah mengaktifkan sirene serangan udara dan meminta masyarakat segera menuju lokasi perlindungan terdekat sebagai langkah antisipasi terhadap potensi ancaman keamanan.
Iran Klaim Serang Pusat Komando Musuh di Suriah
Sementara itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin mengumumkan telah melancarkan serangan mendadak terhadap pusat komando musuh di Suriah.
Menurut pernyataan yang diunggah IRNA (kantor berita Iran), IRGC melancarkan serangan mendadak terhadap pusat komando operasi khusus musuh di wilayah Al-Tanf, Suriah, sebagai pembalasan atas darah para prajurit Iranshahr yang gugur.
Sehari sebelumnya, Iran menyatakan telah menyerang dua pangkalan militer AS di Kuwait sebagai balasan atas gelombang serangan yang terus meningkat selama lebih dari sepekan.
Iran mengklaim serangan AS telah menghantam sektor transportasi dan infrastruktur, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir yang masih dalam tahap pembangunan. Yordania juga melaporkan telah mencegat sejumlah rudal.
























