Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa dirinya ingin bertemu dengan Ayatollah Mojtaba Khamenei karena sosok tersebut dianggap terlibat dalam pengambilan keputusan Iran selama perundingan perdamaian.
Ayatollah naik ke posisi ulama tertinggi setelah ayahnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, tewas dalam serangan militer pertama oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Saya ingin bertemu dengannya. Saya ingin bertemu dengan semua orang. Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan,”
kata Trump tentang Ayatollah, dikutip dari Washington Times, Kamis, 4 Juni 2026.
Mojtaba Belum Tampil di Publik
Ayatollah Khamenei yang berumur 56 tahun itu diketahui belum terlihat di depan umum dan diyakini telah mengalami luka parah akibat serangan militer.
Jika Anda memercayai cerita-cerita itu, dia melewatkan banyak hal penting,”
ujar Trump.
Namun, para pejabat AS mengatakan bahwa Ayatollah memiliki pengaruh atas keputusan Iran dalam perundingan perdamaian.
Dia terlibat, tentu saja. Ya, saya pikir mereka sangat menghormatinya,”
jelas Trump.

Komentar Trump tersebut menggarisbawahi kecenderungan dirinya untuk mencari interaksi pribadi dengan para pemimpin Iran.
Ia juga sempat membanggakan hubungan pribadinya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan mengadakan serangkaian pertemuan puncak dengan Kim Jong-un dari Korea Utara.
Presiden Trump pun sedang berupaya menyetujui nota kesepahaman dengan Iran yang akan mencabut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus mempersiapkan landasan untuk pembicaraan akhir mengenai program nuklir Teheran.
Trump Omeli Benjamin Netanyahu
Dalam wawancara terbaru, Trump menegaskan bahwa ia memaki Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas serangan berulang-ulang ke Lebanon untuk membombardir pejuang Hizbullah yang didukung Iran. Operasi tersebut, katanya justru mempersulit perundingan perdamaian dengan Iran.
Saya agak terganggu dengan sikapnya yang terus-menerus berselisih dengan Lebanon,”
beber Trump.
Meski demikian, ia bekerja sama dengan baik dengan Netanyahu, dan percakapan sarkas itu adalah bagian dari konsekuensi menjadi presiden di masa perang dan perdana menteri di masa perang.

