Seorang pria asal Singapura bernama Chew Jun Yang (36) dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun satu bulan setelah terbukti menipu puluhan siswa sekolah menengah dengan modus proyek sekolah palsu.
Selama sekitar lima tahun, tepatnya sejak 2018 hingga 2023, ia menyamar sebagai teman sekolah korban untuk mendapatkan data pribadi dan rekaman yang kemudian digunakan demi kepuasan seksualnya.
Dilansir dari Channel News Asia, Chew mengaku bersalah atas 11 dakwaan, termasuk penggunaan identitas orang lain untuk menipu korban, mengirim pesan bermuatan seksual demi kepuasan seksualnya, memberikan zat yang membuat korban sakit, serta menipu korban agar membuat dan mengirim rekaman intim.
Selain itu, hakim juga mempertimbangkan 17 dakwaan lainnya saat menjatuhkan vonis. Jaksa sebelumnya menuntut Chew dihukum penjara antara enam tahun empat bulan hingga tujuh tahun satu bulan, tetapi hakim akhirnya menjatuhkan hukuman enam tahun satu bulan penjara.
Pengadilan mengungkap, setidaknya ada 30 siswa sekolah menengah yang menjadi korban Chew. Ia menghubungi korban melalui WhatsApp dan mengaku sebagai teman semasa sekolah dasar agar korban percaya dan mau menuruti permintaannya.
Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan korban, Chew mulai meminta data pribadi, seperti nama, usia, tinggi badan, berat badan, sekolah, hingga foto.
Memberikan Informasi Pribadi
Sedikitnya ada 19 korban yang memberikan informasi pribadi, sementara ada juga 10 korban yang mengirimkan foto kepada pelaku.
Modus yang digunakan Chew yaitu ia mengaku sedang mengerjakan proyek penelitian tentang kesehatan dan sistem pencernaan. Alasan itu dipakai untuk membujuk korban mengikuti berbagai permintaannya.
Korban diminta menceritakan pengalaman saat mengalami keracunan makanan atau gangguan pencernaan. Mereka juga diminta mengirim rekaman suara maupun video yang diketahui digunakan untuk kepentingan seksual pelaku.
Dalam salah satu kasus, Chew juga mengirimkan beberapa paket berisi berbagai zat kepada seorang siswa. Ia kemudian meminta korban untuk mengkonsumsinya saat melakukan panggilan video hingga akhirnya mengalami muntah dan diare.
Setelah itu, korban diminta menceritakan kondisi yang dialaminya. Korban baru sadar telah ditipu, setelah bertemu dengan teman sekolah yang identitasnya dipakai oleh Chew.
Meski sempat meminta agar tidak dilaporkan ke polisi, kasus tersebut akhirnya tetap terbongkar. Chew bahkan kembali mencari korban baru dengan meminta korban lama mengajak teman-temannya ikut dalam proyek palsu tersebut.
Tak hanya itu, Chew juga menyusup ke grup percakapan gim daring dengan menyamar sebagai pelajar.
Dari sana, ia mendekati seorang siswa, meminta foto teman-teman sekelasnya, lalu mengarahkan percakapan ke arah seksual hingga memperoleh video dari korban.
Polisi pertama kali menyita ponsel Chew pada April 2020 dan menemukan percakapan pelecehan seksual.
Meski sedang menjalani proses hukum, ia tetap mengulangi perbuatannya hingga akhirnya ditangkap kembali pada September 2023.
Saat penangkapan terakhir, polisi menemukan 19 rekaman korban remaja di ponsel Chew. Rekaman tersebut dikumpulkan melalui berbagai modus yang dijalankannya selama bertahun-tahun.
Laporan Institute of Mental Health (IMH) pada Juli 2025 menyebut Chew didiagnosis mengalami gangguan fetishistik. Namun, hakim menilai kondisi tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk meringankan hukuman karena pelaku sadar bahwa tindakannya melanggar hukum.
Jaksa juga mengungkap bahwa Chew merupakan residivis. Pada 2015, ia pernah dipenjara selama tiga tahun atas kasus serupa, tetapi kembali mengulangi perbuatannya setelah bebas.





















