Ketegangan di Timur Tengah sempat mencapai titik kritis saat dua pejabat senior Iran yang jadi tokoh utama dalam perundingan dengan Amerika Serikat (AS) diduga berada dalam ancaman serangan Israel.
Laporan New York Times menyebutkan pejabat AS mengkhawatirkan kemungkinan Israel menargetkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Saat itu, keduanya kembali ke Iran usai menjalani rangkaian negosiasi diplomatik dengan Washington di Pakistan pada April 2026.
Kekhawatiran itu muncul karena Washington menilai setiap upaya pembunuhan terhadap tokoh penting Iran berpotensi menghancurkan proses perdamaian yang tengah dibangun.
Upaya apa pun untuk membunuh para pemimpin Iran akan mengakhiri perundingan dan menyulut kembali pertempuran,”
kata pejabat AS dikutip dari Middle East Eye, Jumat, 3 Juli 2026.
AS Berupaya Cegah Eskalasi
Laporan itu menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump semakin fokus menjaga momentum gencatan senjata. Pemerintah Trump disebut membangun kerangka diplomasi jangka panjang dengan Iran.
Namun, Israel dikabarkan tetap skeptis terhadap hasil negosiasi yang dinilai belum bisa memenuhi tujuan strategis mereka.
Menurut New York Times, kekhawatiran Washington meningkat sejak pembicaraan damai dimulai secara intensif pada April. Dalam proses itu, Araghchi dan Ghalibaf jadi dua figur utama yang memimpin negosiasi dengan delegasi AS.
Seorang pejabat AS bersama seorang pejabat dari kawasan Timur Tengah mengatakan kepada surat kabar itu bahwa pemerintahan Trump mengetahui Ghalibaf masuk dalam daftar target Israel. Karena itu, Washington disebut meminta Israel agar tidak mengambil tindakan yang dapat menggagalkan proses diplomasi.
Di sisi lain, pemerintah Iran juga meminta jaminan keamanan kepada Washington melalui perantara Pakistan dan Qatar agar anggota tim negosiasi mereka tidak menjadi sasaran serangan.
Situasi semakin menegangkan ketika delegasi Iran melakukan kunjungan ke Islamabad, Pakistan, pada April lalu.
Saat itu, Ghalibaf dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance dalam agenda pembicaraan lanjutan gencatan senjata.
Menurut laporan tersebut, Pakistan bahkan mengerahkan jet tempur untuk mengawal pesawat delegasi Iran menuju dan meninggalkan Islamabad karena adanya kekhawatiran terhadap potensi serangan.
Dalam perjalanan pulang, aparat keamanan Iran mengabarkan bahwa Israel diduga tengah mempersiapkan operasi militer. Dua jet tempur Israel disebut sudah memasuki wilayah udara Iran melalui perbatasan barat yang berbatasan dengan Irak.
Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi oleh penasihat senior Ghalibaf, Mahdi Mohammadi, melalui media sosial.
Akibat ancaman itu, pesawat yang membawa delegasi Iran melakukan pendaratan darurat di Mashhad. Selanjutnya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Teheran melalui jalur darat selama kurang lebih delapan jam.
Negosiator Pertaruhkan Nyawa
Anggota parlemen Iran, Mohsen Zanganeh, menilai perjalanan para negosiator mencerminkan besarnya risiko yang mereka hadapi demi menjaga peluang perdamaian.
Hari ini, Bapak Ghalibaf dan Bapak Araghchi, serta anggota tim negosiasi lainnya, telah mempertaruhkan nyawa mereka dengan mengetahui risiko keamanan yang sangat besar, dan ini disebut pengorbanan nyata, bukan manuver politik,”
ujar Mohsen Zanganeh.
Dari laporan, sebagian pejabat Israel menganggap kerangka kesepakatan yang sedang dibahas bersama AS belum cukup memenuhi kepentingan strategis mereka. Di antaranya terkait perubahan rezim di Iran, pembatasan kemampuan rudal, hingga pengurangan pengaruh sekutu regional Teheran.
Meski demikian, juru bicara Kedutaan Besar Israel di Washington menolak memberikan komentar terkait dugaan tersebut.
Sementara itu, seorang pejabat AS menegaskan Presiden Donald Trump tetap menginginkan proses perdamaian berjalan sesuai rencana. Ia juga memastikan komunikasi antara delegasi Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung.
Terlepas dari ancaman yang dilaporkan, Abbas Araghchi dan Mohammad Bagher Ghalibaf tetap melanjutkan berbagai agenda diplomatik. Hal itu termasuk menghadiri pertemuan di Qatar dan putaran negosiasi berikutnya bersama JD Vance serta delegasi AS lainnya.
























