Gelombang Islamofobia di Inggris memicu kekhawatiran serius di kalangan komunitas Muslim. Dari data terbaru menunjukkan masjid semakin sering menjadi sasaran serangan.
Laporan British Muslim Trust (BMT) mengungkap lebih dari 70 serangan terhadap masjid terjadi sepanjang tahun lalu, atau setara dengan rata-rata satu serangan setiap lima hari.
Kami melihat peningkatan dalam jumlah serangan terhadap masjid,”
kata Kepala Eksekutif BMT, Akeela Ahmed, dikutip dari Middle East Eye, Jumat, 24 Juli 2026.
BMT, yang menjadi mitra pemerintah Inggris dalam pemantauan kebencian terhadap Muslim, mencatat berbagai bentuk serangan. Hal itu mulai dari kekerasan fisik, intimidasi, vandalisme, perusakan properti, pelecehan verbal, ujaran kebencian, hingga serangan secara daring.
Kejahatan Kebencian Naik 19 Persen
Wilayah dengan jumlah insiden tertinggi adalah London, Greater Manchester, dan West Midlands. Di London saja, tercatat sembilan serangan terpisah yang menargetkan masjid.
Sementara itu, sebuah masjid di Birmingham dilaporkan diserang tiga kali dalam kurun waktu 12 bulan.
Peningkatan serangan terhadap masjid terjadi bersamaan dengan melonjaknya kejahatan kebencian anti-Muslim di Inggris dan Wales.
Data Kementerian Dalam Negeri Inggris menunjukkan jumlah kasus meningkat 19 persen, dari 2.690 kasus pada Maret 2024 menjadi 3.199 kasus pada Maret 2025.
Ahmed menilai tren tersebut menunjukkan perlunya langkah perlindungan yang lebih kuat dari pemerintah.
Dan, kami percaya pemerintah harus melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk membantu masjid melindungi diri mereka sendiri,”
kata Ahmed.
Dana Keamanan Rp860 Miliar Belum Efektif
Pemerintah Inggris sebenarnya telah menjanjikan pendanaan sekitar 53 juta dolar AS untuk meningkatkan keamanan masjid, sekolah Muslim, dan pusat komunitas pada periode 2026–2027.
Melalui program tersebut, tempat ibadah dapat mengajukan bantuan untuk pemasangan CCTV, sistem alarm, pagar pengaman, hingga penyediaan personel keamanan.
Namun, BMT menilai implementasi program masih jauh dari ideal. Banyak komunitas mengeluhkan proses birokrasi yang rumit, penolakan permohonan tanpa penjelasan, serta waktu tunggu yang dapat mencapai 18 bulan.
Menurut pedoman pemerintah, pemohon harus menunjukkan bukti kuat bahwa mereka menghadapi ancaman keamanan.
Ahmed mengatakan penundaan tersebut membuat banyak masjid tetap berada dalam kondisi rentan.
Sebuah masjid rentan (serangan). Saat ini, mereka menunggu berbulan-bulan sambil hidup dalam ketakutan akan serangan lain karena penundaan tersebut. Dalam banyak kasus, polisi bahkan tidak menanggapi insiden tingkat rendah, membuat orang-orang ketakutan dan rentan,”
jelas Ahmed.
Peringatan BMT muncul setelah sejumlah insiden yang dinilai mengkhawatirkan terjadi di berbagai wilayah Inggris. Di Irlandia Utara, aktivis anti-Islam dilaporkan membakar replika sebuah masjid.
Sementara itu, awal bulan ini seorang remaja berusia 14 tahun dihadapkan ke pengadilan atas dugaan pelanggaran terkait terorisme setelah polisi mengungkap rencana serangan yang diduga menargetkan dua masjid di London selatan.
BMT bersama lembaga riset British Future juga menemukan perubahan sikap di masyarakat. Studi terbaru mereka menunjukkan satu dari enam warga Inggris memandang pertumbuhan populasi Muslim sebagai ancaman mendasar terhadap budaya Inggris.
























