Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 3 Sep 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • Sepak Bola
  • KPK
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Purbaya
  • Piala Dunia 2026
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Kesehatan / Kasus Campak Meningkat, Epidemiolog Jelaskan Penyebabnya
Kesehatan

Kasus Campak Meningkat, Epidemiolog Jelaskan Penyebabnya

Syifa FauziahIvan OWRITE
Last updated: Februari 16, 2026 2:55 pm
By
Syifa Fauziah
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Follow:
Ivan Syahruna Lubis
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Follow:
7 bulan lalu
Share
Ilustrasi deorang wanita terkena wabah campak
Ilustrasi deorang wanita terkena wabah campak (Foto: Freepik)
SHARE

Kasus campak kembali ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTB). Kasus ini meningkat dalam kurun waktu setahun terakhir di Indonesia.

Berdasarkan data periode Oktober 2025 hingga 32 Januari 2026, tercatat 306 kasus campak ditemukan di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hal itu menyebabkan satu warga meninggal dunia. Pemerintah Kabupaten Bima pun menetapkan wabah campak sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Selasa, 28 Agustus 2025, jumlah kasus campak pada 2022, tercatat lebih dari 4.800 kasus campak, melonjak signifikan pada 2023 hingga menembus lebih dari 10.600 kasus.

Memasuki 2024, jumlah kasus sempat menurun menjadi lebih dari 3.500 kasus. Namun, tren kembali berbalik pada 2025.

Epidemiolog dari Universitas Griffth, Australia, Dicky Budiman mengatakan terkait wabah campak dan penetapan status KLB akibat adanya kasus campak.

Dicky mengatakan ada beberapa faktor utama penyebabnya.

Pertama, yang menyebabkan kasus campak kembali meningkat di satu negara, wilayah, atau daerah itu karena herd immunity atau kekebalan populasinya yang menurun yang disebabkan oleh cakupan vaksinasi yang belum optimal,”

ujar Dicky kepada owrite, Senin 16 Februari 2026.

Dicky mengatakan campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi, dengan angka reproduksi campak bisa mencapai 19-20.

Artinya, dari satu orang terinfeksi dapat menularkan belasan orang lainnya yang tidak memiliki kekebalan.

Penularannya melalui droplet dan juga kontak langsung jadi hanya sedikit kontak yang diperlukan untuk menyebarkan virus antar individu tertentu tanpa adanya imunitas,”

tambah Dicky.

Untuk mencapai kekebalan kelompok atau komunal, Dicky mengatakan perlu dia dosis vaksin, yaitu MR1 dan MR2, dengan cakupan harus diatas atau sama dengan 95% yang sudah divaksin lengkapnya.

Sayangnya kebanyakan masyarakat Indonesia baru menjalankan vaksin MR1, sementara MR2 cakupan vaksinasinya masih sangat rendah.

Jauh dibawah target dan ini yang menyebabkan adanya celah imunitas yang mempermudah virus menyebar, dan ini yang menyebabkan meskipun MR1 nya relatif lebih tinggi karena MR2 nya rendah, sehingga banyak anak atau remaja yang belum memiliki perlindungan lengkap terhadap virus campak ini yang menjadi kontributor utama lonjakan kasus,”

paparnya.

Lebih lanjut Dicky mengatakan mobilitas penduduk yang tinggi disertai cakupan vaksin antarwilayah juga bida jadi penyebabnya.

Perpindahan penduduk antar desa, kota, hingga provinsi mempercepat penyebaran virus dari satu komunitas ke komunitas lain, terutama ketika terdapat kelompok masyarakat dengan imunitas rendah,”

tuturnya.

Selanjutnya, adanya penundaan atau gangguan layanan imunisasi, yang dapat disebabkan oleh prioritas program kesehatan lain, keterbatasan sumber daya manusia, maupun kendala sistem layanan.

Selain itu, masih terdapat keraguan atau kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya vaksin campak, yang memicu vaccine hesitancy dan memperlambat pencapaian cakupan imunisasi yang optimal,”

Tag:CampakEpidemiologKasus Campak MeningkatKejadian Luar Biasa
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Follow:
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Julukan Prabowo ‘Asbun’ hingga Gibran ‘Kosong’ Muncul, Ada Pesan Serius di Balik Satire Netizen
By Rika Pangesti
Ilustrasi kamus ala warga Threads.
1
Jangan Sampai Terbalik, Ini Urutan Pakai Skincare yang Tepat
By Ossid Duha Jussas Salma
Ilustrasi memakai skincare
2
40.759 Orang Diduga Keracunan MBG, JPPI: Ganti Kepala BGN Tak Selesaikan Masalah
By Natania Longdong
Seorang siswa menjalani perawatan karena diduga keracunan makanan di salah satu Rumah Sakit
3
Purbaya Beri Sinyal Pangkas Lagi Anggaran MBG di Bawah Rp200 Triliun, Ini Cara yang Dipakai
By Anisa Aulia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (sumber: owrite/Anisa Aulia)
4
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pengamat: Reshuffle Jangan Jadi Bagi-Bagi Jatah Kue Politik!
By Rahmat Tunny
Ilustrasi reshuffle kabinet
5

BERITA LAINNYA

Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) di SLB/E Prayuwana, Kraton, Yogyakarta
Kesehatan

Settlement US$50 Juta Merck Bukan Bukti Gardasil Berbahaya, Epidemiolog Jelaskan Faktanya

Isu pembayaran settlement lebih dari US$50 juta oleh Merck & Co. dalam…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
2 jam lalu
Buah delima
Kesehatan

Tak Hanya Manis, Ini Tujuh Manfaat Buah Delima untuk Tubuh

Buah delima dikenal memiliki rasa manis dengan sedikit sentuhan asam yang menyegarkan.…

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
By
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) di SLB/E Prayuwana, Kraton, Yogyakarta
Kesehatan

Benarkah Vaksin HPV Sebabkan Kerusakan Saraf hingga Kemandulan? Ini Penjelasan Epidemiolog

Klaim bahwa vaksin Human Papillomavirus (HPV) dapat menyebabkan kerusakan saraf, penyakit autoimun,…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
Petugas mengukur lingkar kepala anak balita di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Palu, Sulawesi Tengah, Senin (10/8/2026).
Kesehatan

Stunting Kudus Tinggal 3 Persen, Pemkab Bidik Angka Nol pada 2030

Angka stunting di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kini berada di kisaran 3…

Syifa Fauziahowrite-adi-briantika
By
Syifa Fauziah
Adi Briantika
2 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up