Klaim bahwa vaksin Human Papillomavirus (HPV) dapat menyebabkan kerusakan saraf, penyakit autoimun, kemandulan, hingga penuaan dini tidak didukung bukti ilmiah yang kredibel.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menegaskan berbagai penelitian hingga 2026 tidak menemukan hubungan tersebut.
Dicky mengatakan, keamanan vaksin HPV telah diteliti melalui berbagai riset dengan jumlah data yang besar. Salah satunya melalui kajian independen Vaccine Integrity Project di Amerika Serikat dan Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) University of Minnesota.
Menurutnya, kajian tersebut menjaring dan mengevaluasi ratusan penelitian terkait keamanan vaksin HPV.
Hasilnya tidak menunjukkan adanya peningkatan risiko efek samping serius maupun gangguan kesehatan jangka panjang yang dikaitkan dengan vaksinasi HPV.
Tentu sekali lagi tidak ada bukti kredibel yang mendukung klaim atau prasangkaan tersebut,”
kata Dicky.
Ia menjelaskan, dari kajian terhadap sekitar 274 studi hingga 2026, tidak ditemukan bukti kredibel bahwa vaksin HPV meningkatkan risiko gangguan kehamilan, Guillain-Barré syndrome, chronic fatigue syndrome, myalgic encephalomyelitis, complex regional pain syndrome, infertilitas, premature ovarian failure, maupun kelumpuhan.
Tinjauan ini juga mengintegrasikan dua ulasan dari Cochrane komprehensif tahun 2025 sebagai pembandingnya. Jadi, tidak ada bukti kredibel yang mengaitkan vaksinasi HPV ini dengan dampak kehamilan yang serius yang merugikan ataupun risiko jangka panjang lainnya,”
Paparnya.
Vaksin HPV Laki-Laki
Dicky menilai pelurusan informasi mengenai keamanan vaksin HPV menjadi penting seiring pemberian vaksin HPV yang juga menyasar laki-laki.
Sebab, HPV bukan hanya berkaitan dengan penyakit pada perempuan, tetapi juga dapat menginfeksi laki-laki dan menyebabkan sejumlah penyakit terkait HPV.
Karena itu, anggapan bahwa vaksin HPV berisiko menyebabkan kerusakan saraf, autoimun, kemandulan, atau penuaan dini juga tidak semestinya menjadi alasan untuk menolak vaksinasi pada laki-laki.
Dicky menekankan, data keamanan vaksin HPV telah dikumpulkan dalam skala besar melalui sistem pemantauan keamanan vaksin di berbagai negara. Vaksin HPV sendiri telah digunakan secara luas sejak 2006.
Poin penting juga di sini bicara dugaan sangkaan penuaan dini, kerusakan saraf umum, dan kemandulan massal, ini jenis klaim yang sekali lagi tidak berdasar, tidak benar,”
kata Dicky.
Menurutnya, jika memang vaksin HPV menyebabkan efek serius seperti yang diklaim, seharusnya terdapat sinyal keamanan yang terlihat dalam data pemantauan dari ratusan juta dosis vaksin yang telah diberikan di berbagai negara.
Namun, hingga kini sinyal tersebut tidak ditemukan dalam data agregat berskala besar yang menggunakan metodologi untuk mengendalikan bias.
Dan tidak ada sinyal semacam itu dari data agregat yang berskala besar dengan metodologi yang mengontrol juga bias ya. Ini adalah fakta ilmiah dan bukan sekadar belum terbukti,”
ujarnya.
Efek Samping Ringan
Meski membantah klaim mengenai dampak serius tersebut, Dicky menegaskan bukan berarti vaksin HPV sama sekali tidak memiliki efek samping. Seperti vaksin lainnya, vaksin HPV dapat menimbulkan reaksi setelah pemberian.
Efek samping yang dapat muncul antara lain nyeri pada lokasi suntikan, demam ringan, dan pusing. Pada remaja, seseorang juga dapat mengalami pingsan akibat respons vasovagal setelah vaksinasi.
Namun, menurut Dicky, efek tersebut berbeda dengan klaim mengenai penuaan dini, kerusakan saraf secara umum, maupun kemandulan.
Seperti vaksin lain, HPV vaksin ini punya efek samping ringan, sedang, dan umum ya. Misalnya nyeri di lokasi suntikan, demam ringan, pusing, atau ada yang pingsan memang akibat respons vasovagal terutama pada remaja,”
katanya.
Namun berbeda tentu dengan klaim atau sangkaan yang tadi disampaikan di atas ya, masalah apa namanya penuaan dini, kerusakan umum, dan kemandulan massal itu, pungkasnya.




















