Beberapa tahun terakhir, susu oat menjadi tren baru sebagai alternatif produk susu. Selain menjadi pilihan bagi mereka yang alergi susu sapi, susu oat juga kerap dianggap lebih sehat.
Namun, tahukah kamu? Susu oat ternyata tidak selalu lebih sehat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tertipu dengan embel-embel vegan atau plant-based. Susu oat dibuat dari sari pati gandum dan karbohidrat yang kadar gulanya bisa lebih tinggi daripada susu sapi murni.
“Apalagi kalau minum kopi, barista suka menambahkan berbagai macam sirup. Enak, sih, tapi bukan sehat. Justru makin menumpuk kalori dan gula dalam tubuh,”
ujar Budi melalui Instagram pribadinya @bgsadikin, dikutip pada Minggu, 3 Mei 2026.
Budi juga mengajak publik untuk lebih kritis terhadap apa yang dikonsumsi, tidak sekadar ikut-ikutan tren yang terlihat sehat. Sebab, percuma mengeluarkan uang lebih banyak untuk opsi substitusi jika racikannya tetap tinggi kalori.
“Jadi, apa pun jenis susunya (termasuk susu oat), kalau pembuatannya tetap ditambah dengan berbagai macam sirup manis yang dipompa berkali-kali, minuman tersebut tetap tidak menyehatkan dan akan diberi (label) Nutri-Level D,”
kata dia.
Susu oat kerap menjadi alternatif populer pengganti susu sapi lantaran bebas laktosa, kedelai, dan kacang-kacangan, serta aman untuk diet vegan. Secara alami mengandung gula (rasa manis ringan), tinggi karbohidrat, dan sering diperkaya (fortifikasi) dengan kalsium, vitamin B, dan vitamin D.

