Pasti kamu pernah merasa bersin berulang, hidung terasa gatal, atau muncul ruan merah pada kulit. Tanda tersebut sering diabaikan, padahal bisa jadi kamu sedang mengalami alergi.
Alergi sendiri merupakan respons berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang. Alergi dapat terjadi pada siapa saja dan kerap muncul tanpa disadari pemicunya.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University sekaligus Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher dr Mohammad Lukmanul Hakim Winugroho, SpTHT-BKL menjelaskan alergi berkaitan dengan respons imun yang tidak normal terhadap alergi.
Secara sederhana, alergi adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang disebut alergen,”
ujarnya dalam tayangan IPB Pedia di IPB TV.
Jenis dan Gejala Alergi
Dokter Lukman menambahkan dalam bidang otolaringologi terdapat tiga jenis rinitis, yaitu rinitis alergi, nonalergi, dan infeksi.
Rinitis alergi merupakan reaksi hipersensitivitas imunologis terhadap zat asing, sedangkan rinitis non-alergi dipicu oleh faktor seperti iritan lingkungan, efek samping obat, dan gangguan hormonal.
Adapun rinitis infeksi disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur, dan biasanya disertai demam.
Gejala alergi umumnya meliputi bersin, hidung tersumbat, serta gangguan pernapasan seperti sesak atau mengi. Pada kulit, alergi dapat muncul sebagai dermatitis atopik atau urtikaria dengan gejala gatal, ruam kemerahan, bentol, hingga kulit kering. Pemicunya beragam, mulai dari debu, serbuk sari, suhu dingin, hingga makanan dan bahan kimia tertentu,”
urainya.
Faktor Risiko dan Penanganan
Dokter Lukman mengatakan kerentanan terhadap alergi dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan.
Selain itu, paparan debu, tungau, bulu hewan, polusi udara, asap rokok, hingga infeksi berulang pada masa anak-anak turut meningkatkan risiko.
Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat alergi, maka risiko alergi pada anak akan menjadi lebih tinggi,”
jelas dr Lukmanul.
Faktor lain seperti stres, gangguan barier mukosa, serta pola makan rendah antioksidan dan asam lemak omega-3 juga berperan. Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, alergi dapat dikendalikan dengan baik.
Langkah utama yang mesti dilakukan adalah mengidentifikasi dan menghindari pemicu, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Dengan mengenali pemicu alergi dan menerapkan pola hidup sehat, kita tidak hanya mencegah alergi kambuh, tetapi juga menjaga tubuh tetap nyaman dan produktif,”
tutup dr Lukman.


