Sugar rush merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan lonjakan energi atau perasaan lebih bersemangat setelah mengonsumsi makanan tinggi gula. Meski efeknya sering dianggap sepele, asupan gula yang berlebihan dapat memengaruhi kadar gula darah dan menimbulkan berbagai dampak pada tubuh.
Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu sugar rush, gejalanya, serta risiko kesehatan yang dapat muncul jika kebiasaan mengonsumsi makanan manis tidak dikendalikan.
Fakta Tingginya Konsumsi Manis di Indonesia
Dari laman Kementrian Kesehatan, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonuwu, menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan konsumsi MBDK (minuman berperisa manis dalam kemasan) tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
Rata-rata minuman berpemanis dalam kemasan mengandung sekitar 22,8 gram gula per 250 mililiter, atau hampir setengah dari batas konsumsi gula harian yang dianjurkan Kementerian Kesehatan.
Sementara itu, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 47,5 persen penduduk Indonesia berusia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali setiap hari. Selain itu, 43,3 persen lainnya mengonsumsi minuman manis sebanyak 1–6 kali dalam seminggu.
Istilah Sugar Rush Hanya Mitos
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sugar rush sebenarnya lebih merupakan mitos daripada fakta ilmiah. Pada 1995, sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association dan mengkaji 23 penelitian menemukan bahwa konsumsi gula tidak memberikan pengaruh hiperaktif.
Meski demikian, bukan berarti konsumsi gula berlebihan aman bagi kesehatan. Jadi, bahaya utama gula bukanlah menyebabkan seseorang menjadi hiperaktif secara tiba-tiba (sugar rush), melainkan dampaknya terhadap kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.
Sumber Tersembunyi Gula pada Minuman Kekinian
Berbagai jenis minuman yang popular mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Minuman bersoda, misalnya, dalam satu kalengnya bisa setara dengan sekitar 9 sendok teh gula atau lebih. Selain itu, minuman berenergi, jus buah dalam kemasan, minuman teh, hingga kopi kekinian mengandung tinggi gula.
Dampak Kesehatan Konsumsi Gula Berlebihan
Gula sebenarnya merupakan salah satu sumber energi penting bagi tubuh, namun jika dikonsumsi secara berlebihan, gula dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Berikut adalah dampaknya.
1. Obesitas
Kelebihan gula akan disimpan sebagai lemak dalam tubuh. Kondisi ini dapat meningkatkan berat badan dan mengganggu sinyal kenyang pada otak, sehingga seseorang cenderung makan berlebihan.
2. Penyakit jantung
Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan tekanan darah, trigliserida, serta memicu peradangan yang berisiko menyebabkan penyakit jantung koroner.
3. Diabetes melitus tipe 2
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi insulin dan gangguan fungsi insulin.
4. Gigi berlubang
Gula yang tersisa di mulut akan diubah oleh bakteri menjadi asam yang merusak enamel gigi dan menyebabkan karies.
5. Penyakit hati berlemak non alcohol
Kelebihan fruktosa dapat membebani hati dan memicu penumpukan lemak pada organ hati.
6. Kerusakan kulit
Gula berlebih dapat mengurangi elastisitas kulit sehingga mempercepat penuaan dini.
7. Risiko kanker
Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan peradangan dan berat badan, yang berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.
8. Kerusakan ginjal
Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak fungsi ginjal dan berpotensi menyebabkan gagal ginjal, terutama pada penderita diabetes yang tidak terkontrol.
Dengan memahami batas konsumsi gula yang dianjurkan, sumber gula tersembunyi, hingga dampak konsumsi gula berlebihan, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengatur pola konsumsi sehari-hari. Mengurangi asupan gula bukan berarti menghilangkan kenikmatan, tetapi menjaga tubuh tetap sehat untuk jangka panjang.























