Nasib empat Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang disandera di Somalia selama dua bulan terakhir masih belum menemui titik terang. Komisi I DPR RI mengakui upaya pembebasan para korban hingga kini belum berjalan efektif.
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mengatakan, pihaknya telah dua kali membahas kasus tersebut untuk memastikan keselamatan empat WNI yang menjadi korban penyanderaan.
Secara pribadi dan secara kelembagaan, kami di Komisi I sudah dua kali membahas hal ini untuk memastikan keselamatan empat warga negara kita segera mendapat kejelasan,”
kata Syamsu kepada wartawan, Rabu, 24 Juni 2026.
Meski Panglima TNI dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) telah menyiapkan program krisis dan rencana kontingensi, Syamsu menilai langkah yang ditempuh sejauh ini belum membuahkan hasil.
Jujur saja, model penyelesaian konflik yang berjalan selama ini ternyata belum efektif,”
ujarnya.
Ia mengungkapkan, pihaknya bahkan telah menerima gambar dari para korban yang menunjukkan kondisi memprihatinkan selama penyanderaan.
Kami bahkan sudah menerima kiriman foto dan gambar dari para korban yang menceritakan kondisi prihatin mereka di sana, makanannya sudah tidak higienis. Walaupun pihak penyandera memberikan jaminan keselamatan sampai saat ini, hal itu tidak bisa membuat kita tenang,”
kata Syamsu.
Menurutnya, salah satu kendala utama dalam proses pembebasan adalah simpang siurnya informasi terkait tuntutan penyandera.
Informasi jumlah tebusan yang diminta berubah-ubah dan tidak komprehensif. Ada yang mengabarkan minta 5 juta dolar, ada yang bilang sudah naik ke 10 juta dolar. Belum ada sumber tunggal yang kredibel terkait angka tebusan ini,”
ujarnya.
Karena itu, Komisi I mendesak Kementerian Luar Negeri menunjuk satu pihak yang kredibel untuk mengoordinasikan informasi dan membantu proses negosiasi di lapangan.
Inilah mengapa kami mendesak Kementerian Luar Negeri untuk menunjuk satu orang, satu lembaga, atau pihak ketiga yang kompeten dan kredibel untuk mencari kejelasan informasi sekaligus menegosiasikan solusinya di lapangan,”
kata Syamsu.
Terkait kemungkinan operasi militer untuk membebaskan para korban, Syamsu menegaskan opsi tersebut belum dipertimbangkan.
Operasi militer adalah jalan terakhir (last resort),”
tegasnya.





















