Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 5 Feb 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • Cari Tahu
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Banjir
  • sumatera
  • longsor
  • Bola
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part II) Perut Kenyang, Dompet Melompong: “Kengawuran” Pilih Makan Gratis daripada Lapangan Kerja
Nasional

(Part II) Perut Kenyang, Dompet Melompong: “Kengawuran” Pilih Makan Gratis daripada Lapangan Kerja

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Februari 2, 2026 11:18 am
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (tengah) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy (kiri) dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali (kanan) mengamati sejumlah murid yang menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Kalibaru 01 Pagi, Cilincing, Jakarta Utara.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (tengah) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy (kiri) dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali (kanan) mengamati sejumlah murid yang menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Kalibaru 01 Pagi, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (8/1/2026). Dalam kunjungannya itu Kepala BGN Dadan Hindayana meninjau distribusi makanan program MBG pada hari pertama masuk sekolah usai libur. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/tom.
SHARE

Manajer Riset Strategis CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet, berpendapat pernyataan Bappenas menunjukkan “kekompakan kabinet” dalam membela program unggulan presiden. Namun, dari sisi substansi kebijakan, pernyataan itu muncul di momen tak tepat.

Daftar isi Konten
  • Dampak MBG dan Tenaga Kerja
  • Terburu-buru dan Banyak Masalah
  • Siapa Pembayar Makan Siang Gratis?

Pernyataan ini muncul pada momentum yang salah. Apalagi awal tahun ini pun MBG ini masih menemui masalah yang sama seperti tahun lalu, misalnya keracunan. Itu merupakan hal yang cukup serius dan perlu menjadi perhatian pemerintah,”

jelas Yusuf kepada owrite.

Kebijakan negara tidak boleh bersifat zero sum game—satu kebijakan dianggap penting dengan menafikan kebijakan lain, atau situasi dalam teori permainan dan ekonomi di mana keuntungan satu pihak seimbang tepat dengan kerugian pihak lain.

Padahal, lanjut Yusuf, kebijakan bisa berjalan beriringan, bersama, dan sama penting. Mempertentangkan keduanya adalah langkah yang kurang pas.

Menyoroti data ketenagakerjaan, Yusuf membedah mitos elastisitas pertumbuhan ekonomi. Asumsi lama bahwa setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap 500 ribu tenaga kerja, menurutnya sudah tidak relevan secara kualitas.

Struktur ekonomi Indonesia berubah. Lebih banyak sektor jasa, digital, dan kegiatan yang tidak selalu padat karya. Karena itu hubungan antara pertumbuhan dan penciptaan kerja tidak lagi mekanis,”

ujar dia.

Yusuf melanjutkan, data beberapa tahun terakhir justru menunjukkan bahwa secara agregat 1 persen pertumbuhan PDB bisa berkorelasi dengan sekitar 800 ribu sampai 1 juta tambahan pekerja.

(Part I) Perut Kenyang, Dompet Melompong: “Kengawuran” Pilih Makan Gratis daripada Lapangan Kerja

Namun ini perlu dibaca kritis. Elastisitas yang tampak tinggi tersebut sebagian besar datang dari sektor informal dan pekerjaan berproduktivitas rendah.

Artinya, ekonomi memang menyerap tenaga kerja, tetapi tidak selalu menciptakan pekerjaan formal yang stabil, bergaji baik, dan berkelanjutan. Jadi kualitas penyerapan tidak otomatis sebaik kuantitasnya,”

tutur dia.

Di sisi lain, elastisitas juga sangat tergantung pada sumber pertumbuhan. Bila pertumbuhan ditopang manufaktur dan investasi padat karya, serapan kerja biasanya kuat.

Tetapi jika pertumbuhan lebih banyak berasal dari sektor padat modal, teknologi, atau komoditas, maka kenaikan PDB bisa besar, sementara tambahan tenaga kerja relatif kecil. Inilah penyebab pertumbuhan tinggi tidak melulu identik dengan penurunan pengangguran yang signifikan.

Dampak MBG dan Tenaga Kerja

Untuk MBG, dampaknya terhadap tenaga kerja juga perlu dilihat secara realistis. MBG bukan investasi produktif seperti pabrik atau proyek industri, sehingga ia tidak menciptakan kapasitas produksi baru jangka panjang.

Namun MBG tetap menghasilkan serapan kerja operasional: dapur, logistik, distribusi, pemasok bahan pangan lokal, tenaga masak, hingga administrasi.

Secara kasar, setiap unit layanan MBG bisa menyerap puluhan orang, sehingga secara nasional potensinya bisa ratusan ribu hingga lebih dari satu juta pekerjaan.

Meski begitu, karakter pekerjaan dari MBG cenderung padat tenaga kerja mikro, berupah relatif rendah, dan banyak yang semi-formal atau informal.

Efeknya lebih kuat sebagai bantalan sosial dan penggerak ekonomi lokal, bukan sebagai mesin transformasi struktural.

MBG membantu perputaran uang di desa dan kota kecil, tetapi tidak otomatis menaikkan produktivitas nasional seperti halnya investasi industri atau teknologi,”

ucap Yusuf.

Terburu-buru dan Banyak Masalah

Selanjutnya, Dari sisi implementasi MBG, proyek ini dijalankan dengan desain yang terburu-buru, tanpa pilot project yang memadai, dan dipukul rata (one size fits all).

Hal ini memicu risiko fiskal dan inflasi. Anomali anggaran MBG yang terus membengkak di tahun 2026, bahkan mengambil porsi anggaran pendidikan, padahal evaluasi tahun sebelumnya menunjukkan banyak masalah hingga pengembalian anggaran.

Selain itu, ketidaksiapan sisi suplai (pertanian/pangan) menghadapi lonjakan permintaan bahan baku MBG berpotensi memicu inflasi pangan yang dapat mencekik daya beli masyarakat.

Alur distribusi logistik dari pangan menopang program MBG tidak dirancang dengan baik. Dalam kondisi tertentu, itu bisa memicu inflasi,”

ucap Yusuf.

Siapa Pembayar Makan Siang Gratis?

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta, mengingatkan pemerintah ihwal siklus ekonomi dasar yang tampaknya dilupakan.

Menurutnya, program MBG dan industrialisasi tidak bisa dipertentangkan (apple to apple), karena keduanya memiliki hubungan sebab-akibat yang vital dalam struktur APBN.

Redma menegaskan, program MBG memerlukan biaya besar yang bersumber dari pajak. Sementara itu, penyumbang pajak terbesar adalah sektor industri manufaktur.

Jika industri dibiarkan mati demi memprioritaskan MBG, negara justru akan kehilangan kemampuan finansial untuk membiayai program makan gratis tersebut.

Dominasi APBN paling besar itu dari pajak. Pajak paling besar dihasilkan dari industri manufaktur. Sedangkan MBG itu butuh subsidi dari pajak. Jadi, bagaimana MBG bisa jalan dengan baik kalau industri tutup, tak bisa menyerap tenaga kerja? Jadi tidak bisa bayar pajak,”

ujar Redma kepada owrite.

MBG memiliki tujuan mulia untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia agar lebih kompetitif. Ia mempertanyakan nasib sumber daya manusia berkualitas tersebut jika sektor manufaktur terus mengalami deindustrialisasi.

Walaupun tenaga kerja kita dari hasil MBG bagus-bagus, kalau industrinya banyak yang collapse (bangkrut), tetap tidak akan terserap. Jadi dua hal ini harus berjalan beriringan,”

ujar Redma.

Masalah fundamental ketenagakerjaan Indonesia saat ini, yaitu kemampuan industri menyerap tenaga kerja baru jauh di bawah pertumbuhan angkatan kerja baru.

Artinya perlu lapangan kerja yang lebih massif, sementara lapangan kerja masif butuh industri yang sehat. Industri sehat akan menyerap tenaga kerja dan bakal berdampak kepada pertumbuhan ekonomi.

Menanggapi target presiden demi mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, saat ini kontribusi industri manufaktur terhadap PDB hanya berkisar 19 persen.

Kalau mau pertumbuhan ekonomi 8 persen, kontribusi manufaktur harus 25 persen. Sekarang industri (nasional) cuma tumbuh 5 sekian persen. Padahal kalau mau ekonomi tumbuh 8 persen, manufaktur harus tumbuh di atas 10 persen,”

papar Redma.

Pertumbuhan stagnan di angka 5 persen, menurut Redma, disebabkan oleh investasi yang tidak masuk sesuai target. Investor enggan menanamkan modal bukan karena tidak ada infrastruktur, melainkan karena ketiadaan pasar.

Hambatan utama investasi di sektor tekstil dan manufaktur lainnya ialah kebijakan pemerintah yang membiarkan pasar domestik dibanjiri produk impor murah, dumping, dan ilegal.

Tag:gibran rakabuming rakaKepala Bappenasmakan bergizi gratisMBGMenteri PPNPrabowo SubiantoPresidenRachmat PambudySpillwakil presiden
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

@owritedotid

BERITA TERKINI

Indeks berita
Prakiraan Cuaca
Megapolitan

Prakiraan Cuaca BMKG: Jabodetabek Berpotensi Diguyur Hujan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi prakiraan cuaca hari ini di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Menurut ramalan, wilayah Jabodetabek akan diguyur hujan pada hari ini,…

By
Syifa Fauziah
Ivan
1 Min Read
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Hukum

Pejabat Bea Cukai dan Pajak Kena OTT KPK di Kantornya, Purbaya: Ya Biarin Aja

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), di Banjarmasin dan Jakarta. OTT ini menyasar pejabat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Bea dan Cukai (DJBC). Merespons Hal ini,…

By
Anisa Aulia
Dusep
3 Min Read
Bahan Peledak yang dipakai siswa SMPN 3 Sungai Raya Kalbar untuk meneror sekolahnya.
Nasional

Tragis, Korban Bullying Siswa SMP Kalbar Jadi Pelaku Teror Bom Molotov di Sekolahnya

Kasus pelajar terpapar paham radikalisme kembali terjadi. Kali ini melibatkan seorang siswa SMP kelas IX SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. Pelaku nekat meledakkan sekolahnya sendiri dengan menggunakan bom molotov.…

By
Rahmat
Dusep
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Menteri Luar Negeri Sugiono
Nasional

Jika Tak Sesuai Arah, Indonesia Siap Tinggalkan Dewan Perdamaian

Menteri Luar Negeri Sugiono akhirnya angkat bicara terkait peluang Indonesia menarik diri…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
15 jam lalu
dokumen istimewa
Nasional

(Part II) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Mata Koin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers turut mengeluarkan sikap tegas menanggapi…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
16 jam lalu
dokumen istimewa
Nasional

(Part I) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Pemerintah tengah mempersiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing. Langkah…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
16 jam lalu
Ketua Umum Jokowi Mania Nusantara Bersatu (Jokman), Andi Azwan
Nasional

Andi Azwan Tegaskan Publik Bisa Lihat Ijazah Jokowi, Tapi…

Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terus bergulir…

Syifa FauziahAmin Suciady
By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
19 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up