Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 23 Apr 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • Banjir
  • MBG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part II) Debu Kapur di Atas Dosa Masa Lalu: Residu Moratorium Pembelenggu Guru Honorer
Nasional

(Part II) Debu Kapur di Atas Dosa Masa Lalu: Residu Moratorium Pembelenggu Guru Honorer

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Februari 8, 2026 10:32 am
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Guru mengajar di sekolah darurat bantuan Human Initiative di posko pengungsian Desa Durian, Aceh Tamiang, Aceh
Guru mengajar di sekolah darurat bantuan Human Initiative di posko pengungsian Desa Durian, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (12/1/2026). Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menyebutkan sebanyak 71 sekolah telah memulai kembali aktivitas belajar mengajar pascabencana banjir bandang yang telah merusak 394 unit sarana pendidikan. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/bar)
SHARE

Sorotan paling tajam dari Doni tertuju pada penggunaan anggaran fungsi pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Ia menilai narasi bahwa “anggaran tidak cukup” adalah omong kosong.

Dengan total anggaran mencapai Rp720 triliun, seharusnya pendidikan gratis hingga perguruan tinggi bisa terwujud.

Sisi lain, ia menyoroti adanya pelanggaran konstitusi ketika anggaran pendidikan digunakan untuk membiayai program MBG.

Amanah 20 persen di dalam undang-undang itu untuk penyelenggaraan pendidikan. Tidak ada amanah undang-undang untuk MBG. Hampir separuh anggaran pendidikan dipakai untuk MBG, itu pelanggaran terhadap konstitusi,”

tegas Doni.

Definisi penyelenggaraan pendidikan meliputi akses sekolah gratis, gaji guru, dan sarana prasarana, bukan untuk konsumsi. Ia menilai pergeseran anggaran ini berdampak langsung pada kualitas pendidikan, menyebabkan guru hidup susah dan siswa di daerah terpencil tidak memiliki akses buku.

Kemudian, Indonesia tidak pernah memiliki desain besar tata kelola guru yang konkret sebeb kebijakan yang ada selama ini seolah hanya bersifat reaktif.

Doni menyarankan pendekatan Omnibus Law sektor pendidikan untuk menyelesaikan benang kusut. Revisi tidak cukup hanya pada UU Guru dan Dosen, tetapi harus menyasar UU Sisdiknas, UU Pemda, hingga UU Pendidikan Tinggi secara simultan untuk menciptakan kebijakan tunggal nasional.

(Part I) Debu Kapur di Atas Dosa Masa Lalu: Residu Moratorium Pembelenggu Guru Honorer

Banyak peraturan tapi minim pengawasan maka berpotensi membuka celah banyak rasuah. Bagi Doni, solusi jangka pendeknya jelas: Angkat seluruh guru honorer masa bakti 2015-2020 menjadi PPPK tanpa syarat rumit, kembalikan anggaran pendidikan kepada muruah, dan hentikan total rekrutmen honorer baru per 2026 demi memartabatkan profesi guru.

Pilar Dilarang Tumbang

Di tengah klaim kenaikan anggaran pendidikan setiap tahun, kesejahteraan guru di Indonesia, khususnya guru honorer dan non-ASN, masih berada di titik nadir.

Fenomena gaji guru honorer “hanya” Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per bulan dinilai sebagai bukti kegagalan negara dalam memenuhi amanat konstitusi dan undang-undang.

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim menyoroti paradoks pengelolaan anggaran pendidikan yang mencapai Rp769 triliun dalam APBN 2026.

Besarnya anggaran tersebut tidak berbanding lurus dengan peningkatan harkat dan martabat guru.

Satriwan menegaskan, bahwa pemerintah hingga kini belum menetapkan standar upah minimum bagi guru non-ASN, padahal hal ini diamanatkan dalam Pasal 14 Ayat (1) huruf A Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, memaktubkan guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.

Pemerintah sampai hari ini belum menetapkan standar upah minimum bagi guru-guru non-ASN, termasuk guru-guru honorer. Itu fenomena bukan hanya sekarang saja, tapi akumulatif. Ini menandakan bahwa negara belum berpihak kepada kesejahteraan guru,”

kata Satriwan kepada owrite.

Ia menyebut kondisi ini sebagai ironi tata kelola APBN. Meski anggaran pendidikan selalu naik sebagai mandatory spending (20 persen APBN)—Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945 amendemen keempat “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional— realita di lapangan menunjukkan guru PAUD dan sekolah swasta masih banyak diupah di bawah setengah juta rupiah.

(Anggaran) itu ternyata tidak mampu menyejahterakan guru. Jadi, klaim negara bahwa tren anggaran pendidikan naik setiap tahun itu memang fakta, tapi kesejahteraan guru honorer tetap saja sangat rendah. Ini potret yang sangat paradoks dari tata kelola APBN dan sangat ironi sekali tata kelola guru di Indonesia,”

jelas dia.

Sorotan tajam juga diarahkan pada kebijakan PPPK Paruh Waktu. Satriwan menilai skema ini hanya “mengakali” status guru honorer tanpa memberikan solusi kesejahteraan.

Guru yang lulus seleksi PPPK namun berstatus paruh waktu, faktanya menerima gaji yang sama rendahnya saat masih menjadi honorer.

Satriwan mencontohkan kasus ekstrem di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, yakni guru PPPK Paruh Waktu hanya digaji Rp139 ribu per bulan.

Ini adalah pemandangan yang ironis, sangat memilukan sekaligus memalukan. Namanya ASN, tapi gajinya Rp139 ribu,”

sambung dia.

Satriwan berpendapat carut-marut pendidikan nasional bersumber dari kegagalan pemerintah mengelola lima pilar utama guru:

  1. Kesejahteraan: Belum ada standar upah minimum yang layak.
  2. Kompetensi: Guru berkualitas hanya terkonsentrasi di sekolah tertentu, ini mempengaruhi hasil belajar siswa.
  3. Rekrutmen: Analisis jabatan yang buruk di daerah. Contohnya di Jakarta, sekolah butuh guru Fisika yang dikirim guru Seni, atau butuh Sosiologi yang datang guru Agama. Hal ini terjadi juga di daerah lain.
  4. Distribusi: Ketimpangan antara daerah yang kelebihan guru dan daerah 3T yang kekurangan guru, meski rasio nasional 1:16 sudah ideal. Persoalannya di Indonesia, distribusi guru bermasalah.
  5. Perlindungan: Maraknya kriminalisasi guru dan lemahnya perlindungan hukum.

Lantaran kompleksnya masalah yang melibatkan tujuh instansi (Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemenkeu, KemenPAN-RB, BKN, dan pemda), P2G menilai solusi biasa tidak lagi mempan. Satriwan mendesak presiden mengambil langkah extraordinary.

Kesatu, membentuk Badan Guru Nasional.

Badan Guru Nasional adalah lembaga yang langsung di bawah presiden, bertanggung jawab kepada presiden, dapat dibentuk melalui Peraturan Presiden, tupoksinya adalah tata kelola guru. Sehingga pengelolaan guru tidak lagi terpisah dan berlapis karena banyak kementerian/lembaga dan pemda,”

tutur Satriwan.

Banyaknya instansi itu dianggap menyulitkan ruang gerak dan menyulitkan koordinasi sinergi, sehingga guru tetap menjadi “korban”.

Badan diharapkan bisa mandiri, independen di bawah presiden, yang berwenang untuk menata aspek kesejahteraan, kompetensi, rekrutmen, distribusi, dan perlindungan guru.

Kedua, segera menerbitkan Peraturan Presiden tentang Standar Upah Minimum Guru Non-ASN. Hal ini untuk menagih janji Asta Cita Presiden Prabowo yang berkomitmen menetapkan standar gaji layak bagi guru honorer.

Kami berharap political will Presiden kepada guru-guru, khususnya non-ASN dan honorer, agar Indonesia bisa mewujudkan generasi emas 2045. Kuncinya adalah pendidikan. Kunci yang lebih pokok yaitu memanusiakan guru,” 

tutur Satriwan.
Tag:DPRguruPPPKSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Ustadz Khalid Basalamah rampung diperiksa KPK kurang lebih 4 jam terkait kasus korupsi kuota haji tambahan Kemenag.
Hukum

Korupsi Kuota Haji: Khalid Basalamah Ungkap Kronologis Visa Furoda

Usai diperiksa empat jam sebagai saksi dalam perkara dugaan kuota haji tambahan, Khalid Basalamah menegaskan biro perjalanan miliknya yakni PT Zahra Oto Mandiri atau Uhud Tour, telah menyiapkan seluruh administrasi…

By
Rahmat
Adi Briantika
3 Min Read
Viral Bengkel Cewek Friendly
Hype

Viral Bengkel Cewek Friendly, Servis Motor Bonus Nail Art

Baru-baru ini viral di media sosial bengkel motor yang cewek friendly. Bengkel tersebut hadir memudahkan para cewek yang ingin service kendaraannya. Ya, membahas soal otomotif para cewek memang tidak paham-paham…

By
Ivan
Syifa Fauziah
2 Min Read
Ilustrasi istilah ekonomi
Cari Tahu

Sering Dengar Istilah Ekonomi Tapi Bingung? Ini Penjelasan Gampangnya!

Pernah dengar istilah ekonomi saat rapat pemerintah atau nonton berita, tapi kamu bingung artinya apa? Tenang, kamu nggak sendirian. Karena, memang banyak istilah ekonomi yang terdengar kaku dan rumit, padahal…

By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
3 Min Read

BERITA LAINNYA

Karyawan mengawasi proses pemasukan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke dalam mesin pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di PT Karya Tanah Subur Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh
Nasional

(Part II) Ambisi Avtur Sawit Prabowo: Potensi Deforestasi Hutan dan Risiko Penerbangan

Mengacu pada data yang dihimpun Auriga, deforestasi di konsesi sawit masih sering…

iren natania longdongAmin Suciady
By
Iren Natania
Amin Suciady
3 jam lalu
Ilustrasi MRT Jakarta
Nasional

Progres MRT Fase 2A Sudah 57,87 Persen, Ditargetkan Rampung 2029

Proses pembangunan MRT Jakarta fase 2A lintas utara-selatan menunjukkan progres yang signifikan.…

Ani RatnasariSyifa Fauziah
By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
4 jam lalu
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Nasional

Mentan Sebut Cadangan Beras Capai Angka Tertinggi Sepanjang Sejarah

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk pertama…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan
5 jam lalu
Pakar Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto
Nasional

Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Ekonomi, ISESS Sorot Keterlibatan Polri

Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Satuan…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
6 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up