Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 14 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • Purbaya
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / (Part I) Pancang Retak Pilar Keempat: Menakar ‘Pagar Api’ Jurnalis di Balik Ritus HPN
Nasional

(Part I) Pancang Retak Pilar Keempat: Menakar ‘Pagar Api’ Jurnalis di Balik Ritus HPN

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Februari 10, 2026 12:11 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
5 bulan lalu
Share
Gambar ilustrasi aktifitas kerja pers/media
Gambar ilustrasi aktifitas kerja pers/media. (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Raden Mas Djokomono sejatinya lahir di atas tumpukan privilese di Blora, sekitar tahun 1880. Mengalir di tubuhnya darah biru Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa, cucu seorang Bupati Bojonegoro yang terpandang.

Namun, takdir enggan melihatnya sekadar menjadi priayi mapan yang duduk manis di bawah ketiak kolonial.

Djokomono muda memilih jalan pedang yang berbeda: menanggalkan kenyamanan, keluar dari sekolah dokter STOVIA dan mengganti pisau bedah dengan pena yang tajam. Ia terlahir kembali sebagai Tirto Adhi Soerjo.

Jauh sebelum pergerakan nasional 1908, Tirto sudah bergerak senyap namun mematikan. Pada 7 Februari 1903, ia nekat merogoh kocek sendiri untuk mendirikan Soenda Berita, surat kabar pertama yang dimodali, dikelola, dan diterbitkan sepenuhnya oleh pribumi—sebuah anomali di tengah dominasi pers Belanda dan Tionghoa. Surat kabar itu akhirnya karam lantaran problem finansial saat Tirto berkeliling Nusantara menggalang dana.

Kegagalan itu justru membidani lahirnya mahakarya terbesar dalam sejarah pers Indonesia pada 1 Januari 1907: Medan Prijaji.

Bukan sekadar koran, Medan Prijaji adalah toa pengeras suara bagi kaum “terperintah” yang selama ini bungkam, menjadikannya tonggak pertama jurnalisme Indonesia yang tidak hanya pencatat peristiwa, tapi juga melawan ketidakadilan.

Waktu berlalu, 8 Juni 1946 di Yogyakarta, berkumpullah para tokoh surat kabar dan tokoh pers nasional. Mereka bersepakat mendirikan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) berdasar pemikiran bahwa barisan penerbit pers nasional perlu segera ditata dan dikelola dalam ranah ideologi dan komersial. Sebab saat itu pers penjajah dan pers asing masih hidup dan berusaha mempertahankan pengaruhnya.

Sebenarnya, SPS telah lahir empat bulan sebelumnya, bersamaan dengan lahirnya Pesatuan Wartawa Indonesia (PWI) di Surakarta pada 9 Februari 1946. Peristiwa itulah mengibaratkan kelahiran PWI dan SPS sebagai saudara kembar.

Balai pertemuan “Sono Suko” di Surakarta pada 9-10 Februari itu, menjadi saksi lokasi wartawan dari seluruh Indonesia berkumpul.

Pertemuan itu menyetujui pembentukan organisasi jurnalis nasional bernama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)—Mr. Sumanang Surjowinoto sebagai ketua dan Sudarjo Tjokrosisworo selaku sekretaris.

Kondisi pers nasional bidang percetakan mengalami kendala, maka 26 tahun kemudian, lahir Serikat Grafika Pers (SGP).

Januari 1968, sebuah nota permohonan yang mendapat dukungan SPS dan PWI, dilayangkan kepada Presiden Soeharto agar pemerintah membantu memperbaiki keadaan pers, terutama dalam mengatasi pengadaan peralatan cetak dan bahan baku.

Mengingat sejarah pers nasional sebagai wadah perjuangan cum pembangunan, maka pada 23 Januari 1985, Presiden Soeharto menetapkan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Hal ini diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985.

Artinya, Hari Pers Nasional adalah hari kelahiran PWI: sebuah pesta ulang tahun privat yang didandani seolah hajatan negara, merayakan organisasi yang pernah duduk manis di pangkuan Orde Baru sebagai ‘anak tunggal’ yang patuh.

Sementara pers lain—Tempo, Majalah Editor dan Tabloid Detik—yang kritis dipaksa mati muda, atau tiarap di bawah laras senapan pembredelan.

Eks Ketua Umum PWI Hendry Ch Bangun, berkata peristiwa yang dialami oleh pers nasional era dahulu menunjukkan bahwa 9 Februari 1946 sebagai modal untuk menetapkan HPN dibandingkan dengan peristiwa lainnya.

Sebab tanggal itu bukan sekadar hari lahir PWI, tetapi bersatunya seluruh wartawan untuk menyokong Republik Indonesia berusia jabang bayi yang terancam keberadaannya, agar dapat bertahan kukuh berdiri sebagai negara kesatuan seperti saat ini,”

kata dia.

Pilar Empat

Peringatan HPN menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi kembali posisi pers di Indonesia.

Anggota Dewan Pers, Abdul Manan, menilai bahwa pers nasional saat ini belum sepenuhnya berhasil menjalankan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi (The Fourth Estate) terutama dalam menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan.

Kritik publik terhadap media yang dianggap tumpul menjadi indikator nyata bahwa fungsi watchdog (anjing penjaga) terhadap lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif belum berjalan optimal.

Banyak kritik terhadap media karena peran itu (kontrol sosial), menunjukkan bahwa media belum menjalankan fungsi sebagai pilar keempat demokrasi dengan baik,”

ucap Manan kepada owrite.

Mantan Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ini menyoroti minimnya sikap kritis pers secara kontinu terhadap program-program pemerintah yang berdampak luas.

Ia mencontohkan bagaimana media seharusnya lebih tajam menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang penuh kontroversi, mulai dari tata kelola hingga insiden keracunan.

Umpama lain perihal Proyek Strategis Nasional (PSN) yang kerap mengabaikan hak masyarakat adat dan menggunakan pendekatan keamanan.

Semestinya pers bisa membingkai itu dalam kacamata “keuntungan kecil bagi rakyat dari proyek”, agar fungsi pilar keempat demokrasi berjalan optimal.

Tantangan integritas wartawan kian berat, terutama bagi mereka yang bekerja di media yang berafiliasi dengan partai politik atau politisi. Inilah “ujian terbesar” bagi jurnalis.

Mereka harus bergulat setiap hari demi menyeimbangkan kepentingan publik dengan kepentingan pemilik, itu adalah gangguan nyata.

Bagi wartawan yang bekerja di media dan private (independen) yang sama sekali tidak ada hubungan dengan politisi, akan lebih leluasa menjaga idealisme. Tapi tantangan bagi wartawan di media milik politisi itu sangat besar,”

jelas Manan.

Wartawan di media independen menghadapi risiko eksternal seperti intimidasi, teror, atau boikot iklan. Namun, wartawan di media partisan menghadapi risiko internal yang menguji nurani profesi. Posisi mereka bila berseberangan dengan pemilik pun bisa mengakibatkan wartawan “menepi” lantaran tantangan terlalu berat.

Menanggapi potensi revisi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers di tengah dinamika kekerasan dan kriminalisasi, Manan mengambil sikap konservatif.

Ia berpendapat problem utama bukan pada norma hukum, melainkan pada implementasi dan komitmen aparat penegak hukum.

Problem dari UU Pers itu bukan pada normanya, tapi pada implementasinya. Mengubah redaksional kata ‘perlindungan’ dalam undang-undang bukan jaminan akan lebih melindungi wartawan,”

tutur Manan.

Pasal 8 UU Pers memaktubkan wartawan dalam menjalankan profesinya dilindungi hukum, tapi masih terjadi kekerasan pemidanaan, terjadi gugatan perdata, serangan terhadap wartawan.

Pasal tersebut menjadi tumpul bila polisi, jaksa, dan hakim enggan berkomitmen melindungi kemerdekaan pers. Maka sangat penting penerapan MoU Dewan Pers dan aparat guna mencegah kriminalisasi dini terhadap karya jurnalistik.

Kalau tidak ada komitmen (dari aparat), sebaik apapun undang-undang tidak akan jalan juga,”

sambung dia.

Manan berharap pemerintah dan parlemen menunjukkan keberpihakan bukan dengan mengutak-atik regulasi saja, melainkan dapat memastikan pelaku kekerasan terhadap wartawan disanksi sesuai peraturan demi melindungi kebebasan pers.

Tag:ajialiansi jurnalis independenHari Pers NasionalijtiIkatan Jurnalis Televisi IndonesiajurnalismediaperspwiRaden Mas DjokomonoSerikat Penerbit SuratkabarSpillSPSTirto Adhi SoerjoWartawan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Viral Peta SPPG Terbanyak: Dominasi TNI-Polri, Muhammadiyah Mengekor
By Ani Ratnasari
Komandan Lanud Haluoleo Kolonel Pnb Tarmuji Hadi Susanto (kedua kiri) bersama Ketua Umum Induk Koperasi Angkatan Udara (Inkopau) Marsekal Pertama TNI Ady Rachmanaya Panca Putra (ketiga kiri) melepas secara simbolis kendaraan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ambaipua Lanud Haluoleo di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Kamis (18/6/2026).
1
Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Bikin Melongo, Tembus Rp133 Juta!
By Hadi Febriansyah
Estadio Azteca, tempat berlangsungnya pertandingan perdana Piala Dunia 2026
2
Perempuan di Bekasi Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah dan Dua Pamannya Selama Sembilan Tahun
By Ani Ratnasari
Perempuan di Bekasi Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah dan Dua Pamannya Selama Sembilan Tahun
3
Prabowo Persilakan Warga Tak Puas Cari Negara Lain, Ray Rangkuti: Cara Pandang Otoritarian!
By Hardani Triyoga
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutannya saat puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/7).
4
Prabowo Bongkar Borok BUMN: Jadi Sumber Korupsi, Koruptor Diminta Kembalikan Uang Rakyat
By Natania Longdong
Presiden Prabowo dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026, di Indonesia Arena, Jakarta, 12 Juli 2026.
5

BERITA LAINNYA

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah beri keterangan pers.
Nasional

Ambil Alih Kasus Eks Jampisdus Febrie, Kejagung Bentuk Tim Khusus Libatkan Supervisi KPK

Kejaksaan Agung bakal membentuk tim khusus menangani tiga perkara dugaan korupsi yang…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteHardani Triyoga
By
Rahmat Baihaqi
Hardani Triyoga
1 jam lalu
Eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah.
Nasional

YLBHI Curiga Skenario Istana: Minta KPK Ambil Alih Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Pelimpahan penanganan kasus dugaan korupsi dan pencucian uang yang menyeret mantan Jaksa…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
1 jam lalu
Massa dari Forum Komunikasi MBG Sidoarjo Bersatu membawa poster saat melakukan aksi damai di depan Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/6/2026).
Nasional

Surat Bertemu Surat: Kejagung Perintahkan Kajati Stop Ubek-ubek Data Proyek MBG

Kejaksaan Agung (Kejagung) menerbitkan Surat Penghentian Pengumpulan Data dan Keterangan Permasalahan Program…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteowrite-adi-briantika
By
Rahmat Baihaqi
Adi Briantika
2 jam lalu
Warga menandatangani kain putih saat kampanye dan deklarasi anti LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender di Padang, Sumatera Barat, Minggu (21/6/2026). Pemprov Sumbar, Polda Sumbar, dan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) mengajak seluruh masyarakat dalam aksi deklarasi anti LGBT dengan menandatangani kain putih sepanjang satu kilometer dan berkomitmen menindak pelaku dengan hukum adat serta membasmi atau mengusirnya dari tanah Minang. ANTARA FOTO/Fitra Yogi
Nasional

(Part I) Polemik LGBTQ: Menelisik Perpres Prabowo, Dorongan MUI, Sikap DPR hingga Perspektif HAM dan Medis

Pemerintah membuka babak baru dalam penanganan isu Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up